formulasi bifonazole cream

  1. Tinjauan kimia
    1. Monografi zat aktif

Nama IUPAC : 1 – [fenil-(4-phenylphenyl) metil]-1H-imidazol

CAS Number: 60628-96-8

Formula molekul : : C22 H18 N2

Berat Molekul

MOL File:

310.3917

 

60628-96-8.mol

Kepadatan 1.07g/cm3
Titik didih 491.7°C at 760 mmHg
Indeks bias 1.616
Titik nyala 251.2°C

Sangat lipofilen. Larut dalam alkohol, dimethylformamide, dimetil sulfoxide. Kelarutan dalam air pada pH 6: <0,1 mg/100 ml. Stabil dalam larutan pada pH 1-12.

Synonyms: Amycor;Bedrid;A-One-L;Azolmen;Bedriol;Bifazol;bayh4502;mycospor;bifonazol;BIFONAZOLE
CBNumber: CB8138176

 

  1. Identifikasi

Ultra violet spectrophotometry

Bifonazole (200 mg) diambil dalam 100 ml labu ukur dan volume dibuat dengan metanol. Satu ml larutan dipipet dan diencerkan sampai 100 ml dengan metanol. Diperiksa antara 200-400nm. larutan menunjukkan serapan maksimum pada 254,4nm

 

Evaluasi Krim bufonazole

  1. Pemeriksaan organoleptis meliputi: penampilan, warna dan bau.
  2. Pemeriksaan homogenitas

Pemeriksaan dilakukan setiap satu minggu selama delapan minggu. sediaan krim dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.

  1. Pemeriksaan pH krim

Pemeriksaan dilakukan setiap satu minggu selama delapan minggu. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan alat pH meter digital. Pertama alat ini dikalibrasi dengan menggunakan larutan pH 7 sehingga pada alat menunjukkan nilai pH 7 lalu nilai pH disimpan (pengaturan alat). Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, dikeringkan dengan kertas tissue, dikalibrasi lagi dengan larutan pH 4 dan nilai pH 4 simpan (pada pengaturan alat), setelah itu dicuci kembali elektroda dan dikeringkan. Pengujian pH dilakukan dengan cara mengencerkan sediaan dengan air (1:10), kemudiaan elektroda celupkan kedalam larutan tersebut dan angka pada alat akan menunjukkan nilai pH sediaan.

  1. Uji stabilitas terhadap suhu (Jellinek, 1970; Martin et al, 1993)
    1. Untuk suhu dibawah 0 ͦC

Caranya: sediaan ditimbang 20 gram dimasukkan kedalam wadah krim, kemudian krim diletakkan dalam lemari es dengan temperatur – 4 ͦC, biarkan selama 24 jam lalu dikeluarkan dan amati ada atau tidak terjadi pemisahan.

  1. Untuk suhu kamar.

Caranya: sediaan ditimbang 20 gram, dimasukkan kedalam wadah krim, lalu dibiarkan selama 2-3 bulan pada suhu kamar. Setelah itu dikeluarkan dan amati ada atau tidak terjadi pemisahan.

  1. Pemeriksaan daya tercuci krim (Jellinek, 1970)

Sediaan ditimbang 1 gram, oleskan pada telapak tangan kemudian dicuci dengan sejumlah volume air sambil membilas tangan. Air dilewatkan dari buret dengan perlahan-lahan, amati secara visual ada atau tidaknya krim yang tersisa pada telapak tangan, catat volume air yang terpakai.

  1. Uji daya menyebar (Voigt, 1994)

Sediaan sebanyak 0,5 gram diletakkan dengan hati-hati di atas kertas grafik yang dilapisi kaca transparan, dibiarkan sesaat (15 detik) dan dihitung luas daerah yang diberikan oleh sediaan, kemudian diberi beban tertentu (1g, 3g, 5g, 7g, 9g, 11g, 13g, 15g) dan dibiarkan selama 60 detik, lalu dihitung pertambahan luas yang diberikan oleh sediaan.

  1. Uji iritasi kulit

Ditimbang 0,1 gram krim, dioleskan 4 cm pada kulit lengan bagian dalam kemudian ditutupi dengan kain kasa dan diplaster, setelah itu dilihat gejala yang ditimbulkan setelah 24 jam pemakaian. Uji iritasi ini dilakukan untuk masing-masing formula pada 5 orang panelis selama 3 hari berturut-turut.

 

 

  1. Tinjauan farmakologi
    1. Farmakokinetik

Menghambat HMG-CoA reduktase dan sitokrom P450 (https://www.wikigenes.org/e/chem/e/5459391.html)

Bifonazole, merupakan turunan imidazol dengan spektrum antimikotik yang luas dari tindakan yang mencakup dermatofit, ragi, jamur dan jamur lain seperti Malassezia furfur. Hal ini juga efektif pada Corynebacterium minutissimum. Bifonazole menghambat biosintesis ergosterol pada dua tingkat yang berbeda, membedakan bifonazole baik dari turunan azole lainnya dan dari antijamur lain yang bertindak hanya pada tingkat tunggal. Penghambatan sintesis ergosterol menyebabkan gangguan struktural dan fungsional dari membran sitoplasma.

Penyerapan oral Bifonazole ditemukan menjadi 1,55% ± 0,95. dan metabolisme dilaporkan hati. Plasma setengah hidup 1-2hrs.

Bifonazole, sebuah imidazol derivatif baru-baru ini dikembangkan, pameran dalam kondisi konvensional in vitro tes (antijamur) properti terkenal dan klasik azoles:

1 Sebuah spektrum yang luas yang terdiri dari antimycotic dermatofit, ragi, jamur, dan jamur biphasic

  1. intensitas tinggi aktivitas antimikotik

3 Situasi ketahanan memuaskan dengan insiden rendah resistensi primer, sekunder dan resistensi yang tidak dapat dideteksi sampai sekarang

  1. Sangat baik dalam efek vivo setelah aplikasi topikal menggunakan model trichophytosis di guinea pig
  2. Efek setelah pemberian oral dalam model murine candidiasis

Selain itu, bifonazole ditandai dengan waktu retensi yang lama pada kulit, seperti yang ditunjukkan dengan model profilaksis infeksi, dan oleh aktivitas fungisida meningkat pada elemen jamur berfilamen, khususnya dermatofit, karena penghambatan ganda pada biosintesis ergosterol di jamur Sel

Penyerapan dari bifonazole ke dalam sel jamur mencapai maksimum setelah hanya 20-30 menit, dan obat tetap ada selama sekitar 120 jam, terus menghambat biosintesis ergosterol. Jadi dalam sel jamur bifonazole terkontaminasi kerugian diucapkan virulensi diamati, yang akhirnya mempengaruhi berbagai langkah dari kontaminasi infeksi pada macroorganisms dan konversi dari saprophytic ke tahap parasit dalam jamur. Berdasarkan sifat eksperimental in vitro dan in vivo, bifonazole memungkinkan untuk aplikasi sekali sehari dan durasi pengobatan.

 

Farmakokinetik

Setelah satu aplikasi (topikal) dari 15.2mg [14C] cream bifonazole, dan oklusi berikutnya untuk

enam jam, 0,6 ± 0,3% dari dosis diserap. Tingkat penyerapan adalah sekitar

0.008mg / 100cm2 per jam. Pada kulit yang meradang nilai-nilai ini lebih tinggi dengan faktor empat. Mirip

Hasil yang diperoleh setelah penerapan bifonazole sebagai solusi 1%.

Kadar plasma hingga 16ng / ml diperoleh pada bayi dengan ruam popok setelah aplikasi 5g tunggal krim.

Setelah pemberian intravena 0.016mg / kg [14C] bifonazole, penyerapan jaringan itu cepat.

Bifonazole, bagaimanapun, dengan cepat dimetabolisme dengan hanya 30% dari dosis intravena tersisa berubah 30 menit pasca-dosis.

Penghapusan metabolit adalah biphasic (T½ delapan dan 50 jam). Dalam waktu lima hari administrasi 45% dari dosis yang diberikan telah dikeluarkan renally, dengan 40% yang dieliminasi melalui hati dan empedu (feses)

 

 

  1. Farmakodinamik

Komposisi: 1 g cream contains 10 mg bifonazole in inert cream base (O/W)

Inidikasi :  krim antijamur topikal digunakan untuk mengobati infeksi kulit seperti tinea, kaki Atlet, atlet gatal, kurap infeksi tubuh dan kulit lainnya yang disebabkan oleh jamur dan ragi.

PO: sekali sehari pada malam hari. Oleskan tipis.

Efek samping : Kadang, reaksi kulit seperti kemerahan, terbakar, gatal, iritasi dan mengelupas dapat terjadi.

kehamilan dan menyusui :

Data keamanan praklinis dan data farmakokinetik pada manusia tidak memberikan indikasi bahwa efek yang merugikan pada ibu dan anak harus diantisipasi ketika Bifonazole digunakan selama kehamilan. Namun, tidak ada data klinis yang tersedia. Dalam 3 bulan pertama kehamilan Bifonazole tidak boleh digunakan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Penyerapan sistemik obat dari aplikasi topikal rendah tetapi merupakan potensi bahaya bagi janin. Tidak diketahui cuaca obat ini diekskresikan dalam air susu manusia. Perhatian harus dilakukan ketika Mycospor diberikan kepada seorang ibu breasfeedinq.

  1. Alasan pemilihan

Bentuk sediaan obat yang dipilih adalah Cream bifonazole Pertimbangan farmasetika/biofarmasetika

  1. Bufonazole bersifat praktis tidak larut dalam air, jadi dibuat dalam bentuk cream dengan menggunakan perpaduan minyak didalam air untuk mengurangi tegangan permukaan antara dua sifat yang tidak menyatu.
  2. Sediaan cream ini dibuat untuk semua kalangan pasien.
  1. Kenyamanan dan keefektivitas dalam pemakaian atau penggunaan dibanding bentuk sediaan lain. Misalnya bentuk salep yang kurang efektif dalam adsorbsi dibanding cream.

 

 

  1. Tinjauan formulasi
    1. Preformulasi
  • Asam stearat

Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari

lemak sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat, C18H36O2 dan asam

heksadekanoat, C16H32O2 (Ditjen POM, 1979).

Asam lemak ini merupakan asam lemak jenuh, wujudnya padat pada suhu

ruang. Asam stearat diproses dengan memperlakukan lemak hewan dengan air

pada suhu dan tekanan tinggi. Asam ini dapat pula diperoleh dari hidrogenasi

minyak nabati. Dalam bidang industri asam stearat dipakai sebagai bahan

pembuatan lilin, sabun, plastik, kosmetika, dan untuk melunakkan karet (Anonim

a, 2010).

Pemerian : zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur; putih

atau kuning pucat; mirip lemak lilin

Titik lebur : 540

Titik didih : 3840

Kelarutan : sangat sedikit larut dalam air; larut dalam alkohol; benzena

kloroform; aseton; karbon tetraklorida; karbon disulfida; amil

asetat dan toluen (Merck, 1976 ).

 

  • Trietanolamin

Trietanolamin (TEA) (Handbook of Excipients 6th edition hal. 663)

Pemerian : Berwarna sampai kuning pucat, cairan kental.

Kelarutan : bercampur dengan aseton, dalam benzene 1 : 24, larut dalam kloroform, bercampur dengan etanol.

Konsentrasi : 2-4%

Kegunaan: Zat pengemulsi

OTT : akan bereaksi dengan asam mineral menjadi bentuk garam kristal dan ester dengan adanya asam lemak tinggi.

Stabilitas : TEA dapat berubah menjadi warna coklat dengan paparan udara dan cahaya.

 

  • Adeps lanae

 Adeps Lanae ( Farmakope Indonesia IV hal. 57)

Pemerian : Massa seperti lemak, lengket, warna kuning, bau khas.

Kelarutan : tidak larut dalam, air dapat bercampur dengan air lebih kurang 2x beratnya, agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih larut dalam etanol panas, mudah larut dalam eter dan kloroform.

Kegunaan : Emulsifying agent, basis salep.

OTT : dapat mengandung pro oksidan dan dapat mempengaruhi stabilitas.

Stabilitas : dapat mengalami autooksidasi selama penyimpanan. Untuk mencegah ditambahkan antioksidan.

Wadah dan penyimpanan : di tempat yang tertutup, terlindung dari cahaya, sejuk, dan kering.

 

  • Parafin cair

Paraffin Liquidum (Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6 hlm. 445, FI IV hlm. 652)

Pemerian                     : Transparan, tidak berwarna, cairan kental, tidak

berfluoresensi, tidak berasa dan tidak berbau ketika dingin

dan berbau ketika dipanaskan.

Kelarutan                    : Praktis tidak larut etanol 95%, gliserin dan air.

Larut dalam jenis minyak lemak hangat.

Stabilitas                     : Dapat teroksidasi oleh panas dan cahaya.

Khasiat                        : Laksativ (pencahar)

Dosis                           : Emulsi oral : 15 – 45 ml sehari (DI 88 hlm. 1630)

HLB Butuh                 : 10 – 12 (M/A). 5 – 6 (A/M)

OTT                             : Dengan oksidator kuat.

Penyimpanan               : Wadah tertutup rapat, hindari dari cahaya, kering dan sejuk.

 

  • Nipagin

Nipagin / Methylis Parabenum (Excipient Hal 441)

Rumus Molekul  :  C8H8O3

Berat Molekul    :  152,15

Pemerian            :  hablur atau serbuk tidak berwarna, atau kristal putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, dan mempunyai rasa sedikit panas.

Kelarutan           :  mudah larut dalam etanol, eter; praktis tidak larut dalam minyak; larut dalam 400 bagian air

OTT                    :  surfaktan non-ionik seperti polisorbat 80, bentonit, magnesium trisilikat, talk, tragakan, dan sodium alginat

Kegunaan           :  antifungi

Konsentrasi        :  0.02–0.3% untuk topikal

 

  • Nipasol

 

Nipasol / Propylis Parabenum ( Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 411 )

Pemerian                      : Kristal putih, tidak berbau dan tidak berasa.

Kelarutan                    : sukar larut dalam etanol ( 95 % ), mudah larut dalam air dan etanol 30 %

Konsentrasi                  : 0,01-0,6 %

OTT                             : surfaktan non-ionik

Kegunaan                    : pengawet

pH                                : stabil pada ph 3-6

Wadah &penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering

 

  1. Formula standar

Tabel I. Formula dasar krim tipe minyak dalam air m/a (Anonim, 1971)

Bahan Dasar krim
Asam stearat 14,5 g
Trietanolamin 1,5 g
Adeps lanae 3 g
Parafin cair 25 g
Nipagin 0,1 g
Nipasol 0,05 g
Air suling hingga 100 mL

 

  1. Sediaan yang beredar

Mycospor : 1 gram krim mengandung 10 mg bifonazol, 1 ml cairan mengandung 10 mg bifonazol (mengadung alkohol). PT Bayer Indonesia

Canesten : Bifonazole 1% w/w. BAYER AUSTRALIA LTD

  1. Formula yang direncanakan

10 mg dalam 1gram cream, dirancang dengan membuat 10 gram cream dalam tube.

  1. Alasan pengambilan bahan

 

No Nama Zat Jumlah Alasan
1 BIFONAZOLE 10 mg/ ! gram zat aktif yang digunakan sebagai anti jamur spektrum yang luas dalam pengobatan yang efektif untuk kondisi kulit jamur seperti cacing cincin, atlet gatal, ragi
infeksi pada kulit, tinea dan kaki atlet dengan penggunaan satu hari.
2 Asam stearat pengemulsi, solubilizing agent. (1-20%)
3 Trietanolamin agen pengalkali,agen pengemulsi
4 Adeps lanae  zat pengikat.
5 Parafin cair
6 Nigapgin antimikroba untuk sediaan topikal 0,02%-0,3%
7 Nipasol
8 Air suling Aquadest biasa digunakan sebagai pelarut pada sediaan farmasi non-parenteral.

 

 

  1. Formula akhir
Bahan Dasar krim
Bufonazole 1 gram
Asam stearat 14,5 g
Trietanolamin 1,5 g
Adeps lanae 3 g
Parafin cair 25 g
Nipagin 0,1 g
Nipasol 0,05 g
Air suling hingga 100 mL

 

  1. Cara kerja

Cara pembuatan untuk dasar krim :

Semua bahan yang diperlukan ditimbang. Bahan-bahan yang terdapat dalam formula dipisahkan dalam dua kelompok, yaitu fase minyak dan fase air. Fase minyak (parafin cair, adeps lanae, asam stearat, nipasol) dan fase air (trietanolamin, nipagin). Setiap fase dipanaskan pada suhu 60 ͦC-70 ͦC ditangas air. Pindahkan fase minyak ke dalam lumpang panas dan tambahkan fase air aduk sampai dingin hingga terbentuk massa krim.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Etiket brosur
BIFPAN®

Bifonazole krim

 

Komposisi: 1 g krim mengandung 10 mg bifonazole.

Inidikasi : antijamur topikal untuk mengobati infeksi kulit seperti tinea, kaki Atlet, kurap dan kulit lainnya yang disebabkan oleh jamur dan ragi.

Dosis: sekali sehari pada malam hari. Oleskan tipis.

Efek samping : Kadang, reaksi kulit seperti kemerahan, terbakar, gatal, iritasi dan mengelupas dapat terjadi.

Kontra Indikasi : Hipersensiitif terhadap kandungan dalam obat ini.

Peringatan : Tidak dianjurkan untuk digunakan pada bayi kecuali di bawah pengawasan medis. Untuk pemakaian luar. Jangan gunakan di mata. Tanyakan apoteker atau dokter sebelum mengobati jika Anda sedang hamil atau menyusui.

Kemasan : Tube

Netto: 10 gram krim

No. Reg : DKL 1401701029A1

 

 

 

PT. Manurung Medica

Pekanbaru_Riau

Indonesi

TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP DOKTER

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s