PEMERIKSAAN GULA DARAH & PEMERIKSAAN HEMAGLOBIN

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN GULA DARAH

&

PEMERIKSAAN HEMAGLOBIN

DI SUSUN

OLEH :
Maulina (0801027)

Kelompok II A (Ganjil)

Tanggal praktikum: 2 Mei 2012

Dosen: Dra. Sylvia Hasti, M.Farm., Apt

Asisten :   1. Sumartini

2. Yelvi Ratmi

PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU

2012

PEMERIKSAAN GULA DARAH

 

Tujuan :

Untuk menentukan adanya glukosa dalam darah.

Tinjauan Pustaka

Glukosa Darah

Beberapa jaringan di dalam tubuh, misalnya otak dan sel darah merah bergantung pada glukosa untuk memperoleh energi. Dalam jangka panjang, sebagian besar jaringan juga memerlukan glukosa untuk fungsi lain misalnya membentuk gugus ribose pada nukleotida atau bagian karbohidrat pada glikoprotein. Oleh karena itu, agar dapat bertahan hidup, manusia harus memiliki mekanisme untuk memelihara kaadar gula darah.

Harus dicurigai adanya diabetes mellitus apabila kadar glukosa plasma vena yang diambil tanpa memandang kapan saat makan terakhir jelas meningkat ( yaitu, ≥ 200 mg/dL). Untuk memastikan diagnosis tersebut, penderita harus berpuasa satu malam (10-16 jam), diukur kadar glukosa darah . nilai yang kurang dari 115 mg/dL dianggap normal. Nilai yang lebih dari 140 mg/dL mengisyaratkan diabetes mellitus.

 

Metabolisme

Setelah melalui dinding usus halus, glukosa akan menuju ke hepar melalui vena portae. Sebahagian karbohidrat ini diikat di dalam hati dan disimpan sebagai glikogen, sehingga kadar gula darah dapat dipertahankan dalam batas-batas normal (80-120 mg%).

Karbohidrat yang terdapat dalam darah, praktis dalam bentuk glukosa, oleh karena fruktosa dan galaktosa akan diubah terlebih dahulu sebelum memasuki pembuluh darah.

Apabila jumlah karbohidrat yang dimakan melebihi kebutuhan tubuh, sebagian besar (2/3) akan disimpan di dalam otot dan selebihnya di dalam hati sebagai glikogen. Kapasitas pembentukan glikogen ini sangat terbatas (maksimum 350 gram), dan jika penimbunan dalam bentuk glikogen ini telah mencapai batasnya, kelebihan karbohidrat akan diubah menjadi lemak dan disimpan di jaringan lemak. Bila tubuh memerlukan kembali energi tersebut, simpanan glikogen akan dipergunakan terlebih dahulu, disusul oleh mobilisasi lemak. Jika dihitung dalam jumlah kalori, simpanan enersi dalam bentuk lemak jauh melebihi jumlah simpanan dalam bentuk glikogen.

Sel-sel tubuh yang sangat aktif dan memerlukan banyak energi, mendapatkan energi dari basil pembakaran glukosa yang di ambil dari aliran darah. Kadar gula darah akan diisi kembali dari cadangan glikogen yang ada di dalam hati. Kalau energi yang diperlukan lebih banyak lagi, timbunan lemak dari jaringan lemak mulai dipergunakan. Dalam jaringan lemak diubah ke dalam zat antara yang dialirkan ke hati.

Gambar. metabolisme glukosa

Disini zat antara itu diubah menjadi glikogen, mengisi kembali cadangan glikogen yang telah dipergunakan untuk meningkatkan kadar gula darah. Peristiwa oksidasi glukosa di dalam jaringan-jaringan terjadi secara bertahap dan pada tahap-tahap itulah enersi dilepaskan sedikit demi sedikit, untuk dapat digunakan selanjutnya.

Melalui suatu deretan proses-proses kimiawi, glukosa dan glikogen diubah menjadi asam pyruvat. Asam pyruvat ini merupakan zat antara yang sangat penting dalam metabolisme karbohidrat. Asam pyruvat dapat segera diolah lebih lanjut dalam suatu proses pada “lingkaran Krebs”. Dalam proses siklis ini dihasilkan CO2 dan H2O dan terlepas enersi dalam bentuk persenyawaan yang mengandung tenaga kimia yang besar yaitu ATP (Adenosin Triphosphate). ATP ini mudah sekali melepaskan enersinya sambi}berubah menjadi ADP (Adenosin Diphos phate). Sebagian dari asam piruvat dapat diubah menjadi “asam laktat”. Asam laktat ini dapat keluar dari sel-sel jaringan dan memasuki aliran darah menuju ke hepar.

Di dalam hepar asam laktat diubah kembali menjadi asam pyruvat dan selanjutnya menjadi glikogen, dengan demikian akan menghasilkan energi.

Hal ini hanya terdapat di dalam hepar, tidak dapat berlangsung di dalam otot, meskipun di dalam otot terdapat juga glikogen. Sumber glikogen hanya berasal dari glukosa dalam darah. Metabolisme karbohidrat selain di pengaruhi oleh enzim-enzim, juga diatur oleh hormon-hormon tertentu. Hormon Insulin yang dihasilkan oleh “pulau-pulau Langerhans” dalam pankreas sangat memegang perananan penting. Insulin akan mempercepat oksidasi glukosa di dalam jaringan, merangsang perubahan glukosa menjadi glikogen di dalam sel-sel hepar maupun otot. Hal ini terjadi apabila kadar glukosa di dalam darah meninggi. Sebaliknya apabila kadar glukosa darah menurun, glikogen hati dimobilisasikan sehingga kadar glukosa darah akan menaik kembali. Insulin juga merangsang glukoneogenesis, yaitu mengubah lemak atau protein menjadi glukosa.

Juga beberapa horrnon yang dihasilkan oleh hypophysis dan kelenjar suprarenal merupakan pengatur-pengatur penting dari metabolisme karbohidrat.

Enzim sangat diperlukan pada proses-proses kimiawi metabolisme zat-zat makanan. vitamin-vitamin sebagian dari enzim, secara tidak langsung berpengaruh pada metabolisme karbohidrat ini. Tiamin (vitamin B1) diperlukan dalam proses dekarboksilase karbohidrat. Kekurangan vitamin B1 akan menyebabkan terhambatnya enzim-enzim dekarboksilase, sehingga asam piruvat dan asam laktat tertimbun di dalam tubuh. Penyakit yang ditimbulkan akibat defisiensi vitamin B1 itu dikenal sebagai penyakit beri-beri.

Regulasi Kadar Gula Darah

Tanpa bantuan hormon, kadar gula darah akan mengalami fluktuasi yang besar. Kadar gula darah akan segera meningkat sesudah makan, dan sebaliknya bila tidak ada asupan makanan pada periode tertentu, kadar gula darah akan turun sangat rendah. Untuk mencegah terjadinya fluktuasi yang membahayakan ini, tubuh akan meregulasi glukosa darah dengan menggunakan hormon insulin dan glukagon.

Hormon insulin disekresikan oleh sel-sel beta pankreas apabila kadar gula darah meninggi (hiperglikemia), yang biasanya terjadi sesudah rnakan, seperti nasi, roti, gula, dan lain sebagainya. Peninggian kadar gula darah ini, akan merangsang sekresi insulin dari sel-sel β pulau Langerhans pankreas. Sekresi Insulin ini berlangsung dalam dua rase, pada rase pertama kadar insulin melonjak tinggi seketika. Hal ini terjadi 10 menit sesudah kenaikan kadar gula darah, dan dimungkinkan karena ada simpanan insulin dalam granula. Kemudian terjadi rase ke dua yang bersifat lambat, berlangsung selama lebih dari 10 menit sampai 2 jam. Dalam jam pertama sesudah makan, gula darah meningkat sampai 160 11 mg%, dan kemudian menurun lagi berkat pengaruh insulin, sehingga 2 jam sesudah makan kadar gula darah normal kembali, yakni 120 mg%. Insulin akan merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan dan kemudian memecahnya menjadi enersi, menyimpannya dalam bentuk glikogen dan mengubahnya menjadi lemak. Dengan proses tersebut diatas, kadar gula darah akan menurun dan kembali normal 2 sampai 2 ½ jam sesudah makan.

Sebaliknya bila kadar gula darah rendah, hormon glukagon yang dihasilkan sel-sel α pankreas akan rnenstimulasi sintesa glukosa dari asam amino, rnenyebabkan terlepasnya glikogen dari hepar, yang akan rneninggikan kadar gula darah. Jadi, aktifitas hormon insulin dan glukagon berlawanan satu sama lain.

Ada juga hormon lain yang dapat rnernbantu rneninggikan kadar gula darah, salah satu yang paling penting adalah epinefrin (adrenalin) yang merangsang pernbebasan glukosa dari glikogen. Hormon epinefrin ini akan disekresikan pada situasi dimana tubuh dalam keadaan stress ataupun dalarn keadaan bahaya. Peningkatannya akan menaikkan kadar gula darah, yang akan membantu tubuh untuk berkelahi atau berlari langkah seribu.

Gambar. Kadar glukosa dalam darah

 

 

Diabetes Mellitus

Sejarah

Diabetes mellitus (DM) berasal dari kata Yunani yaitu: diabaínein, “tembus” atau “pancuran air”, dan kata Latin mellitus, “rasa manis” yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Aretaeus, pada tahun 200 sebelum Masehi merupakan orang pertama kali memberi nama diabetes yang berarti “ mengalir terus “ dan mellitus yang berarti “ manis “. Disebut diabetes karena selalu minum dan dalam jumlah banyak (polidipsia) yang kemudian mengalir terus berupa urine. Disebut mellitus karena urine penderita ini mengandung glukosa (manis). (Tjokroprawiro, 1997).

Definisi

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit atau gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati. Kriteria diagnosis diabetes mellitus adalah kadar glukosa puasa ≥ 126 mg/dL atau pada 2 jam setelah makan ≥ 200 mg/dL. Jika kadar glukosa 2 jam setelah makan > 140 mg/dL tetapi lebih kecil dari 200 mg/dL dinyatakan glukosa toleransi lemah.

 

Etiologis

Klasifikasi etiologis diabetes mellitus (ADA 2005)

  1.                    I.             Diabetes mellitus tipe I (destruksi sel beta, umum nya menjurus ke definisi insulin absolut) a. melalui proses imunologik b. idiopatik
  2.                 II.             Diabetes mellitus tipe II (bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai diefisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)
  3.              III.             Diabetes tipe lain
  4. Defek genetik fungsi sel beta
  5. Defek genetik kerja insulin : resistensi insulin tipe A, leprechaunism, sindrom Rabson Mendenhall, diabetes lipoatrofik, lainnya
  6. Penyakit Eksokrin Pankreas : pankreatitis, trauma/pankreatektomi, neoplasma, fibrosis kistik, hemokromatosis, pankreatopati fibro kalkulus, lainnya
  7. Endokrinopati : akromegali, sindrom cushing, feokromositima, hipertiroidisme somatostatinoma, aldosteronoma, lainnya
  8. Karena Obat / zat kimia : vacor, pentamidin, asam nikotinat, glukokortikoid, hormon tiroid, diazoxid, agonis β adrenergic, tiazid, dilantin, interferon alfa, lainnya
  9. Infeksi : rubella congenital, CMV, lainnya
  10. Imunologi (jarang) : sindrom “Stiff-man”, antibodi anti reseptor insulin, lainnya
  11. Sindrom genetik lain : sindrom Down, sondrom Klinefelter, sindrom Turner, sindrom Wolfram’s, ataksia fredreich’s, chorea Huntington, sindrom Laurence-Moon-Biedl, distrofi miotonik, porfiria, sindrom Prader willi, lain nya

 

 

 

  1.              IV.             Diabetes kehamilan

Pada perairan asam Tasek Bera yang terdapat di Pahang Malaysia diperoleh jenis fitoplankton yang tergolong dalam Bacillaryophyceae (Tabellaria, Eunotia, Frustulia dan Pinnularia) dan Desmidiaceae ( Cosmarium, Closterium, Hyalotheca dan Micrasterias) sedangkan jenis zooplankton yang didapat tergolong dalam Cladocera (Alona, Chydorus, dan Macrothrix), Rotifera (Euchlanis, Colurella, Keratella), Protozoa (Euglypha, Difflugia, Arcella) (International Lake Environment Committee 2009).

 

Klasifikasi Diabetes Mellitus

Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) diabetes mellitus dibagi menjadi 4 kelompok sesuai dengan American Diabetes Association (ADA) yaitu:

  1. Diabetes Mellitus Type I

Diabetes type ini disebabkan karena adanya gangguan produksi insulin akibat penyakit autoimun atau idiopatik. Tipe ini sering disebut insulin dependent diabetes mellitus atau IDDM karena pasien mutlak membutuhkan insulin. Penderita DM tipe ini biasanya memiliki tubuh yang kurus karena insulin sangat kurang disertai peningkatan hormon glukagon. Sejumlah 20-40% pasien mengalami poliuria, polidipsia, polifagia dan kehilangan bobot badan (Sukandar, 2008).

  1. Diabetes Mellitus Type II

Diabetes type ini disebabkan akibat resistensi insulin atau gangguan sekresi insulin. DM type ini tidak selalu dibutuhkan insulin, kadang-kadang cukup dengan diet dan antidiabetik oral. Type ini disebut juga dengan noninsulin dependent diabetes mellitus atau NIDDM. Pada diagnosis umumnya terdeteksi adanya poliuria dan polidipsia sedangkan penurunan bobot badan secara signifikan jarang terjadi.

 

 

 

  1. Diabetes Mellitus Gestasional

Istilah ini dipakai pada pasien yang mengalami intoleransi glukosa pada saat hamil dan biasanya berlangsung hanya sementara dan sekitar 4-5 % wanita hamil menderita diabetes tipe ini. Jenis ini sangat penting diketahui karena bila tidak segera ditangani akan berdampak kurang baik pada janin.

  1. Diabetes Mellitus Type lain

Diabetes tipe ini berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu seperti : penyakit pankreas, pankreatomi dan penyakit yang disebabkan berbagai jenis obat seperti : diuretika, glukokortikoid, beta bloker, dan psikoaktif.

 

Gejala dan Komplikasi Diabetes Mellitus

Tanda dan gejala yang sering dikeluhkan pasien antara lain rasa haus, banyak kencing, rasa lapar, berat badan turun dan kesemutan. Gejala peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) pada penderita diabetes mellitus dapat terjadi karena penurunan pemasukan glukosa kedalam sel dan peningkatan pembebasan glukosa kedalam sirkulasi oleh hati. Dengan demikian terjadi defisiensi glukosa intrasel. Diabetes mellitus jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti: mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, saraf, dll. Komplikasi tersebut dapat terjadi secara akut maupun kronis. Komplikasi akut seperti halnya hipoglikemik dan ketoasidosis merupakan keadaan gawat darurat yang terjadi pada penyakit DM. Komplikasi akut ini masih menjadi masalah utama karena angka kematiannya masih tinggi.

Sedangkan komplikasi kronik pada dasarnya dapat terjadi pada semua bagian tubuh (angiopati diabetik) yang dapat dibagi 2 yaitu makroangiopati (makrovaskular) dan mikroangiopati (mikrovaskular). Penyakit kronik DM:

1.  Mikrovaskular        :  ginjal, retina mata.

2.  Makrovaskular        :  jantung koroner, pembuluh darah kaki dan otak.

3.  Neuropati               :  mikro dan makrovaskular.

4.  Rentan infeksi        :  mikro dan makrovaskular.

 

 

 

Diagnosa Diabetes Mellitus

Cara yang paling umum dipakai untuk mendiagnosis penyakit diabetes adalah dengan menentukan :

1.  Kadar Glukosa Plasma Puasa

Sampel untuk pemeriksaan kadar glukosa puasa paling baik diambil pada pagi hari sesudah puasa semalam. Kadar glukosa darah puasa sewaktu pagi normalnya 80-90 mg/dL. Bila kadar glukosa darah plasma puasa di atas 140 mg/dL pada lebih dari satu kali pemeriksaan maka dapat dikatakan pasien menderita diabetes mellitu.

2.  Uji Toleransi Glukosa

Bila hasil pemeriksaan kadar glukosa darah meragukan (120-140 mg/dL) maka uji toleransi glukosa perlu dilakukan untuk memastikan diabetes mellitus. Tes ini dilakukan apabila pasien tidak melakukan aktivitas fisik berlebihan, tidak dibebani stres dan puasa semalam selama 10-12 jam. Tes toleransi oral dilakukan setelah pemberian beban glukosa 75 g untuk orang dewasa, 1,75 g glukosa per kg BB untuk anak-anak. Pada orang normal selanjutnya terjadi peningkatan kadar gula darah menjadi 120-140 mg/dL dan dalam waktu kira-kira 2 jam, kadar ini menurun lagi menjadi normal. Sedangkan pada penderita diabetes mellitus, konsentrasi kadar gula darah puasa hampir selalu di atas 120 mg/dL dan sering di atas 140 mg/dL dan mencapai lebih dari 200 mg/dL setelah 2 jam.

 

            Metoda Penentuan Kadar Glukosa Darah

Metoda penentuan kadar glukosa darah dapat ditentukan dengan dua cara yaitu:

1.  Metoda Kimia

Penentuan kadar glukosa darah dengan metoda kimia pada prinsipnya dilakukan dengan reaksi reduksi atau reaksi kondensasi seperti berikut:

a.  Metoda reduksi

Pada metoda reduksi, protein serum dan senyawa pereduksi non glukosa diendapkan, misalnya dengan penambahan seng klorida dan barium hidroksida. Selanjutnya glukosa dioksidasi dalam suasana basa dengan menggunakan suatu oksida, misalnya tembaga(II) hidroksida yang menghasilkan tembaga(I) oksida yang sebanding dengan konsentrasi glukosa. Tembaga(I) yang dihasilkan akan mereduksi larutan asam dari arsenomolibdat menjadi arsenomolibdat biru, yaitu senyawa bewarna dengan intensitas warna sebanding dengan kadar glukosa darah.

Glukosa + Cu2+                       Campuran asam-asam gula + Cu2O

Cu2O + Arsenomolibdat + 4 H                       2 Cu+ + H2O + Arseno molibdat biru

b.  Metoda Kondensasi

Pada metoda ini, glukosa dikondensasikan dengan ortotoluidin dengan pemanasan dalam asetat glasial membentuk glukosamin dan kemudian membentuk basa schiff yang bewarna hijau. Basa schiff yang bewarna hijau tersebut serapannya sebanding dengan kadar glukosa darah.

2.  Metoda enzimatis

Pada metoda ini dapat dilakukan dengan cara metoda glukosa oksidase dan metoda heksokinase yang dibedakan berdasarkan enzim yang digunakan :

a.  Metoda glukosa oksidase

Pada metoda ini, glukosa dengan adanya oksigen akan dioksidasi oleh enzim glukosa oksidase membentuk asam glukoronat dan hidrogen peroksida. Selanjutnya hidrogen peroksida yang terbentuk akan mengoksidasi ortotoluidin (kromogen) yang dikatalis oleh enzim peroksidase sehingga membentuk bewarna. Jumlah produk warna yang terbentuk sesuai dengan kadar glukosa darah.

Prinsip reaksinya :

Glukosa + O2  + H2O                     Asam glukoronat + H2O2

H2O + Kromogen                                     Kromogen teroksidasi + H2O

b.  Metoda Heksokinase

Pada metoda ini, glukosa dengan adanya ATP difosforilasi oleh enzim heksokinase menghasilkan glukosa-6-fosfat. Selanjutnya glukosa-6-fosfat dengan NADP oleh enzim glukosa-6-fosfathidrogenase diubah menjadi 6-fosfoglukonat dan NADPH. NADPH yang terbentuk dapat diukur serapannya dan sebanding dengan glukosa darah. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :

Glukosa + ATP            heksokinase           Glukosa-6-PO4 + ADP

Glukosa-6-PO4 + NADP glukosa-6-PO4 Dehidrogenase  NADPH + H + 6-fosfoglukonat

Alat dan Bahan

Alat :

  • Tes tube
  • Glucotest
  • Blood lanset
  • Penjepit
  • Kapas, funel
  • Pipet tetes
  • Penangas air (water bath)

Bahan :

  • Zinc sulfat 0,45%
  • NaOH 0,1N
  • Asam asetat
  • Aquadest
  • K3Fe(CN)6
  • KI
  • Amilum
  • Na2S2O3
  • alkohol

 

Fungsi reagen

Campuran ZnSO4 dan NaOH merupakan pengendapan protein sebab mengganggu reaksi kimia. Amilum berfungsi sebagai indikator yang berwarna biru dengan I2.

 

 

METODA ORTHOTOLUIDIN

Cara kerja

Zat

Sampel

Standart

Blanko

Larutan tricloroacetat

1,0 ml

1,0 ml

Darah sampel

0,1 ml

Serum standard

0,1 ml

Campurlah baik-baik dan centrifuge 10 menit/500 rpm filtratnya pipetkan kedalam taubung sebagai berikut:

Zat

Sampel

Standard

Blanko

Filtrat serum sampel

0,5 ml

Filltrat serum standard

0,5 ml

Larutan tricloroasetat

0,5 ml

Pereaksi warna/o.toluidin

3,0 ml

3,0 ml

3,0 ml

Campurkan baik-baik dan panaskan 8 menit dalam air mendidih, kemudian segera dinginkan dalam air dingin, setelah dingin baca absorban dari sampel dan standard terhadap blanko.

 

PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN ALAT GLUCOTEST

CARA KERJA:

  1. Bersihkan ujung jari menggunakan alkohol
  2. Tusuk dengan menggunakan lanset, tetesan darah pertama dibuang.
  3. Tetesan darah berikutnya, teteskan pada strip
  4. Lihat kadar glukosa dalam darah.

 

 

Hasil

Metode orthotoluidin

No

Absorban sampel

Absorban standar

Konsentrasi glukosa

1

0,615

0,147

23,90 mg %

2

0,731

0,108

14,77 mg %

3

0,827

0,256

33,47 mg %

4

0,153

0,319

47,9 mg %

5

0,136

0,220

61,81 mg %

 

Gambar . Percobaan Orthotoluidin

 

 

 

 

Metode Gluko DR

No

Nama

Kadar glukosa dalam darah

1

Winda Sandria

81 mg/dL

2

Safitri Hidayati

38 mg/dL

3

Yulisa Gustini

74 mg/dL

4

Beni Iskandar

44 mg/dL

5

Suminiati

88 mg/dL

6

Hidayati

86 mg/dL

7

Nurdiana

60 mg/dL

8

Rindi Entika

63 mg/dL

9

Femmy A

87 mg/dL

10

Maulina

73 mg/dL

 

Gambar . Glucotest

 

Pembahasan

Glukosa dijumpai di dalam aliran darah (disebut Kadar Gula Darah) dan berfungsi sebagai penyedia enersi bagi seluruh sel-sel dan jaringan tubuh. Hormon yang berperan membawa glukosa dalam darah ke sel jaringan yaitu insulin pada sel beta pulau langerhans, dan hormon yang menyeimbangkan glukosa agar tetap dan dalam meningkatkan kadar glukosa darah, glukagon merangsang glikogenolisis (pemecahan glikogen menjadi glukosa) dan meningkatkan transportasi asam amino dari otot serta meningkatkan glukoneogenesis (pemecahan glukosa dari yang bukan karbohidrat). Molekul glukagon adalah polipepida rantai lurus yang mengandung 29n residu asam amino dan memiliki molekul 3485. Glukagon merupakan hasil dari sel-sel alfa, yang mempunyai prinsip aktivitas fisiologis meningkatkan kadar glukosa darah.

Pada keadaan fisiologis Kadar Gula Darah sekitar 80-120 mg %. Kadar gula darah dapat meningkat melebihi normal disebut hiperglikemia, keadaan ini dijumpai pada penderita Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit atau gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati. Kriteria diagnosis diabetes mellitus adalah kadar glukosa puasa ≥ 126 mg/dL atau pada 2 jam setelah makan ≥ 200 mg/dL. Jika kadar glukosa 2 jam setelah makan > 140 mg/dL tetapi lebih kecil dari 200 mg/dL dinyatakan glukosa toleransi lemah.

Metoda penentuan kadar glukosa darah dapat ditentukan dengan dua cara yaitu: Metoda Kimia dan Metoda enzimatis. Pada praktikum dengan gluko DR yaitu dengan metoda enzimatis dimana, Pada metoda ini dapat dilakukan dengan cara metoda glukosa oksidase dan metoda heksokinase yang dibedakan berdasarkan enzim yang digunakan :

a.  Metoda glukosa oksidase

Pada metoda ini, glukosa dengan adanya oksigen akan dioksidasi oleh enzim glukosa oksidase membentuk asam glukoronat dan hidrogen peroksida. Selanjutnya hidrogen peroksida yang terbentuk akan mengoksidasi ortotoluidin (kromogen) yang dikatalis oleh enzim peroksidase sehingga membentuk bewarna. Jumlah produk warna yang terbentuk sesuai dengan kadar glukosa darah.

Prinsip reaksinya :

Glukosa + O2  + H2O                     Asam glukoronat + H2O2

H2O + Kromogen                                    Kromogen teroksidasi + H2O

b.  Metoda Heksokinase

Pada metoda ini, glukosa dengan adanya ATP difosforilasi oleh enzim heksokinase menghasilkan glukosa-6-fosfat. Selanjutnya glukosa-6-fosfat dengan NADP oleh enzim glukosa-6-fosfathidrogenase diubah menjadi 6-fosfoglukonat dan NADPH. NADPH yang terbentuk dapat diukur serapannya dan sebanding dengan glukosa darah. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :

Glukosa + ATP            heksokinase           Glukosa-6-PO4 + ADP

Glukosa-6-PO4 + NADP glukosa-6-PO4 Dehidrogenase  NADPH + H + 6-fosfoglukonat

Dari hasil praktikum nilai glukosa rendah, ini mungkin disebabkan karena para mahasiswa uji belum makan atau memang ada gejala penyakit glukosa.

Dari hasil praktikum metode orthotoluidin didpatkan nilai absorban dan % konsentrasi sampel berbeda pada tiap kelompok, padahal plasma uji sama. Hal ini mungkin dikarenakan cara pemipetan yang salah.

 

Kesimpulan

–        Makanan yang kita makan diubah menjadi glukosa yang berfungsi sebagai energi.

–        Kadar glukosa didalam darah jika tinggi maka menyebabkan hiperglikemia

–        Metode gluko DR menggunakan metode enzimatis

–        Metode lain dalam menentukan glukosa darah yaitu metode orthotoluidin dengan melihat absorban dan menghitung % konsentrasi sampel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMERIKSAAN HAEMOGLOBIN

Tujuan

Untuk mengetahui kadar Hb dalam darah

Tinjauan Pustaka

Hemoglobin

Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, pada mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin juga pengusung karbon dioksida kembali menuju paru-paru untuk dihembuskan keluar tubuh. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.

Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, di antaranya yang paling sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia.

Pada pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal dengan porfirin yang menahan satu atom besi; atom besi ini merupakan situs/loka ikatan oksigen. Porfirin yang mengandung besi disebut heme. Nama hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan globin; globin sebagai istilah generik untuk protein globular. Ada beberapa protein mengandung heme, dan hemoglobin adalah yang paling dikenal dan paling banyak dipelajari.

Gambar. Struktur molekul heme

Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 subunit protein), yang terdiri dari masing-masing dua subunit alfa dan beta yang terikat secara nonkovalen. Subunit-subunitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap subunit memiliki berat molekul kurang lebih 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton. Tiap subunit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen:

Reaksi bertahap:

  • Hb + O2 <-> HbO2
  • HbO2 + O2 <-> Hb(O2)2
  • Hb(O2)2 + O2 <-> Hb(O2)3
  • Hb(O2)3 + O2 <-> Hb(O2)4

Reaksi keseluruhan:

  • Hb + 4O2 -> Hb(O2)4

 

 

 

Struktur

Molekul Hemoglobin manusia terbina daripada empat subunit protein berbentuk globul (iaitu hampir berbentuk sfera). Oleh sebab satu subunit dapat membawa satu molekul oksigen, maka secara efektifnya setiap molekul hemoglobin dapat membawa empat molekul oksigen. Setiap subunit pula terdiri daripada satu rantai polipeptida yang mengikat kuat sebuah molekul lain, dipanggil heme.Struktur heme adalah lebih kurang sama dengan klorofil. Ia terdiri daripada satu molekul bukan protein berbentuk cincin yang dinamai porphyrin, dan satu atom besi (Fe) yang terletak di tengah-tengah molekul porphyrin tadi. Di sinilah oksigen akan diikat semasa darah melalui peparu.

Terdapat dua keadaan pengoksidaan atom Fe yaitu +2 dan +3 (ion Fe2+ dan Fe3+ masing-masing). Hemoglobin dalam keadan normal membawa ion Fe2+, tetapi adakalanya ion ini dioksidakan kepada Fe3+. Hemoglobin yang membawa ion Fe3+ dipanggil methemoglobin. Methemoglobin tidak mampu mengikat oksigen, jadi ion Fe3+ ini perlu diturunkan kepada Fe2+. Proses ini memerlukan NADH, iaitu sebuah koenzim pembawa hidrogen, dan dimangkin oleh enzim NADH cytochrome b5 reductase.Terdapat beberapa jenis hemoglobin. Dalam darah manusia dewasa, hemoglobin yang paling banyak ialah hemoglobin A (HbA), yang terdiri daripada dua subunit α dan dua subunit β. Konfigurasi ini dinamai α2β2. Setiap subunit terdiri daripada 141 dan 146 molekul asid amino masing-masing.Oksihemoglobin terbentuk apabila molekul oksigen diikat kepada hemoglobin. Proses ini berlaku di kapilari darah di dalam peparu. Oksihemogloin berwarna merah terang. Setelah oksigen digunakan oleh tubuh, hemoglobin dipanggil deoksihemoglobin. Ia berwarna merah gelap.

Fungsi  hemoglobin

Hemoglobin berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan digunakan oleh hewan crustaceae. Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna hijau muda, biru, atau kuning oranye). Hemoglobin adalah suatu zat yang memberikan warna merah sel darah merah. Hemoglobin terdiri dari 4 molekul zat besi (heme), 2 molekul rantai globin alpha dan 2 molekul rantai globin beta. Rantai globin alpha dan beta adalah protein yang produksinya disandi oleh gen globin alpha dan beta.

Hubungan Hemoglobin Dengan Oksigen Dan Karbondioksida

 

  1. Pengangkutan Oksigen (Reaksi Hb dengan O2)

 

 

O2

 

 

CO2

 

Hb       +          4O2                                                                                        Hb ( O2) 4

( Hemoglobin)                                     CO2                             ( Oksihemoglobin)

( Merah Tua )                            O2                                                       (Merah muda)

 

Reaksi O2 bolak – balik dengan Hemoglobin:

  • Di bawah pengaruh suhu, pH dan peningkatan tekanan O2 yang terdapat dalam kapiler paru – paru. Reaksi ke kanan Hemoglobin darah vena yang berwarnamerah jingga, merah tua berubah menjadi Oksihemoglobindarah arteri yang bewarna merah muda.
  • Di bawah pengaruh suhu, pH dan penurunan tekanan O2 yang terdapat dalam kapiler – kapiler jaringan, reaksinya sebaliknya terjadi dari Oksihemoglobin melepaskan Oksigen.

 

 

Reaksi bertahap Hemoglobin mengikat O2:

 

* Hb + O2     HbO2
* HbO2 + O2     Hb(O2)2
* Hb(O2)2 + O2     Hb(O2)3
*          Hb(O2)3 + O2                                                               Hb(O2)4

Reaksi keseluruhan:  * Hb + 4O2                   Hb(O2)4

 

  1. Pengangkutan Karbondioksida  (Reaksi Hb dengan CO2)

 

Bila Karbondioksida masuk ke dalam sel darah merah, beberapa bersenyawa dengan air di dalam sel, membentuk asam karbonat.

CO2  +  H2O                                                    H2CO3

Karbonat Anhidrat

 

Kemudian berdisosiasi menjadi ion Hidrogen dan ion Karbonat.

H2CO3                                                             H+ + HCO3

 

Ion 0ion Hidrogen yang dibebaskan kemudian bersenyawa dengan bagian protein dari hemoglobin dan ion bikorbonat berdifusi ke dalam plasma. Dan kira-kira hanya 25 % karbondioksida benar – benar bersenyawa dengan hemoglobin di dalam sel darah merah membentuk Karbonmono-Hemoglobin.

 

Kadar Hemoglobin Normal Pada Manusia

Kadar hemoglobin biasanya ditentukan sebagai jumlah hemoglobin dalam gram (gm) bagi setiap dekaliter (100 mililiter). Aras hemoglobin normal bergantung kepada usia, awal remaja, dan jantina seseorang itu.

Kadar normal adalah sebagai berikut :

1)      Bayi Baru lahir : 17-22 gm/dl.

2)      Bayi Usia seminggu : 15-20 gm/dl.

3)      Bayi Usia sebulan : 11-15gm/dl.

4)      Kanak-kanak: 11-13 gm/dl.

5)      Lelaki dewasa: 14-18 gm/dl.

6)      Wanita dewasa: 12-16 gm/dl.

7)      Lelaki separuh usia: 12.4-14.9 gm/dl.

8)      Wanita separuh usia: 11.7-13.8 gm/dl.

 

Varian Hb Pada Manusia  Dan Kelainannya

Varian Hemoglobin adalah bagian dari normal embrio dan janin pembangunan, tapi mungkin juga bentuk-bentuk patologis hemoglobin mutan dalam populasi , yang disebabkan oleh variasi dalam genetika. Beberapa dikenal hemoglobin varian-baik seperti anemia sel sabit bertanggung jawab untuk penyakit, dan dianggap hemoglobinopathies . Varian lain menyebabkan tidak terdeteksi patologi , dan karena itu dianggap-varian non patologis.

1)      Dalam embrio :

  • Gower 1 (ζ 2 ε 2 )
  • Gower 2 (α 2 ε 2 ) ( PDB 1A9W )
  • Hemoglobin Portland (ζ 2 γ 2 ) Portland hemoglobin (ζ 2 γ 2)

2)      Pada janin :

3)      Pada orang dewasa:

  • Hemoglobin A2 β 2) ( PDB 1BZ0 ) – Yang paling umum dengan jumlah normal lebih dari 95% .
  • Hemoglobin A 2 (α δ 2) – sintesis rantai δ 2 mulai akhir pada trimester ketiga dan pada orang dewasa, ia memiliki kisaran normal 1,5-3,5% .
  • Hemoglobin F2 γ 2) – Pada orang dewasa Hemoglobin F dibatasi untuk populasi terbatas sel darah merah yang disebut F-sel.Namun, tingkat F Hb dapat meningkat pada orang dengan penyakit sel sabit.

 

 

 

 

 

Varian bentuk yang menyebabkan penyakit:

  • Hemoglobin H (β 4) – Suatu bentuk varian dari hemoglobin, dibentuk oleh tetramer rantai β, yang dapat hadir dalam varian α Thalassemia .
  • Hemoglobin Barts4) – Suatu bentuk varian dari hemoglobin, dibentuk oleh tetramer rantai γ, yang dapat hadir dalam varian α Thalassemia .
  • Hemoglobin S (α 2 β S 2) – Suatu bentuk varian hemoglobin yang ditemukan pada orang dengan penyakit sel sabit . Ada variasi dalam gen β-rantai, menyebabkan perubahan dalam sifat hemoglobin, yang menghasilkan sickling sel darah merah.
  • Hemoglobin C2 β C 2) – varian lain karena variasi dalam gen rantai β. varian ini menyebabkan ringan kronis anemia hemolitik .
  • Hemoglobin E2 β E 2) – varian lain karena variasi dalam gen rantai β. varian ini menyebabkan ringan kronis anemia hemolitik .
  • Hemoglobin AS – Bentuk heterozigot menyebabkan sifat sel sabit dengan satu gen dewasa dan satu penyakit sel sabit gen
  • Penyakit hemoglobin SC – Bentuk lain gen heterozigot dengan satu sabit dan lain encoding Hemoglobin C .

 

Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Hb

Kadar Hb normal bervariasi  tergantung :

  1. Umur

Semakin tua umur seseorang, maka semakin berkurang kadar Hb-nya.

  1. Jenis Kelamin

Pada umumnya, pria memiliki kadar Hb yang lebih tinggi dibandingkan kadar Hb pada wanita. Hal ini juga bersangkut paut terhadap kandungan hormon pada pria maupun wanita.Kadar Hb wanita lebih rendah karena faktor aktifitasnya yang lebih sedikit dibanding aktivitas pada pria,selain wanita mengalami menstruasi.

  1. Geografi ( tinggi rendahnya daerah ).

Tempat tinggal di dataran tinggi, makhlik hidup  disana tubuhnya cenderung lebih aktif dalam memproduksi sel darah merah untuk meningkatkan suhu tubuh dan lebih aktif mengikat kadar O2 yang lebih rendah daripada di dataran rendah.

Hb makhluk hidup yang tinggal dipesisir cenderung mempunyai Hb yang lebih rendah sebab tubuh memproduksi sel darah merah dalam keadaan normal.

  1. Nutrisi

Bila makanan yang dikonsumsi banyak mengandung Fe atau besi, mak sel darah yang di produksi akan meningkat sehingga Hemoglobin yang terdapat dalam darah pun meningkat.Dan begitu juga sebaliknya.

  1. Faktor Kesehatan

Kesehatan sangat mempengaruhi kadar Hb dalam darah,. Jika kesehatan terjaga dengan baik, maka kadar Hb dalam keadaan normal.

  1. Faktor Genetik.
  2. Bila seseorang terhirup CO2.

 

Kekurangan Hb Berakibat:

Nilai Hb yang rendah dapat menyebabkan penyakit anemia, yaitu  suatu keadaan dimana laju matinya sel darah merah ( setelah 120 hari) melebihi laju pembentukan sel darAh merah sehingga konsentrasi sel darah merah dalam darAh menurun. Kadar  Hb menurun pada ANEMIA dan dapat dijumpai pada :

  1. Thalasemia
  2. Haemoglobinopathy
  3. Perdarahan akut atau kronis

 

Derivat Hb

  • Derivat Hemoglobin a yang hemoglobin Aic ( Hb Aic) yang mempunyai satu glukosa yang menempel pada ujung valin yang ada disetiap rantai.
  • Methaemoglobin ( tidak bisa mengikat O2 sehingga tidak dapat mantranspor O2 ).
  • Myohemoglobin ( zat besi yang mengandung protein, menyerupai Hemoglobin) ditemukan dalam sel otot.
  • Oxyhemoglobin ( O2 yang diangkut dari paru – paru ke sel-sel dimana O2 dilepaskan).
  • Hemoglobin tereduksi ( Hemoglobin yang telah melepakan O2).
  • Karboksihemoglobin, ikatan hb dengan gas Karbondioksida ( CO2).

Alat dan Bahan

Alat :

  • Tabung reaksi
  • Tabung pengencer
  • Penjepit kayu
  • Lanset steril
  • Pipet tetes

Bahan :

  • Darah
  • NaCl 0,1 N
  • Aqua dest
  • HCl 0,1 N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CARA KERJA :

  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Masukkan HCl 0,1N kedalam tabung pengencer  sebanyak 5 tetes
  3. Bersihkan ujung jari yang akan diambil darahnya dengan alkohol. Keringkan, tusuk dengan lanset steril.
  4. Masukkan darah kedalam pipet sampai tanda batas 20 µl. Alirkan tersebut kedalam tabung pengencer yang berisi HCl tadi.
  5. Aduk, letakkan disamping larutan pembanding, tambahkan air tetes demi tetes sambil diaduk sampai warna menyyamai pembanding tadi.
  6. Baca skalanya.

Nilai normal HB

  • Wanita : 12-14 %
  • Pria    : 14-16 %

 

Hasil


Gambar. Alat Hemoglobin

 

Pembahasan

Hemoglobin berfungsi sebagai pengikat oksigen. Hemoglobin adalah suatu zat yang memberikan warna merah sel darah merah. Hemoglobin terdiri dari 4 molekul zat besi (heme), 2 molekul rantai globin alpha dan 2 molekul rantai globin beta. Rantai globin alpha dan beta adalah protein yang produksinya disandi oleh gen globin alpha dan beta.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar Hb

Kadar Hb normal bervariasi  tergantung :

  1. Umur :nSemakin tua umur seseorang, maka semakin berkurang kadar Hb-nya.
  2. Jenis Kelamin: Pada umumnya, pria memiliki kadar Hb yang lebih tinggi dibandingkan kadar Hb pada wanita. Hal ini juga bersangkut paut terhadap kandungan hormon pada pria maupun wanita.Kadar Hb wanita lebih rendah karena faktor aktifitasnya yang lebih sedikit dibanding aktivitas pada pria,selain wanita mengalami menstruasi.
  3. Geografi ( tinggi rendahnya daerah ) :Tempat tinggal di dataran tinggi, makhlik hidup  disana tubuhnya cenderung lebih aktif dalam memproduksi sel darah merah untuk meningkatkan suhu tubuh dan lebih aktif mengikat kadar O2 yang lebih rendah daripada di dataran rendah. Hb makhluk hidup yang tinggal dipesisir cenderung mempunyai Hb yang lebih rendah sebab tubuh memproduksi sel darah merah dalam keadaan normal.
  4. Nutrisi : Bila makanan yang dikonsumsi banyak mengandung Fe atau besi, mak sel darah yang di produksi akan meningkat sehingga Hemoglobin yang terdapat dalam darah pun meningkat.Dan begitu juga sebaliknya.
  5. Faktor Kesehatan : Kesehatan sangat mempengaruhi kadar Hb dalam darah,. Jika kesehatan terjaga dengan baik, maka kadar Hb dalam keadaan normal.
    1. Faktor Genetik : Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, di antaranya yang paling sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia.
    2. Bila seseorang terhirup CO2: hal ini akan menyebabkan seseorang susah bernafas karena CO2 langsung berikatan dengan heme

 

Pada praktikum ini penambahan air setetes demi setetes hingga menyerupai warna, didapat skala: 14,6 g%.  hal ini menunjukkan Hb darah sampel normal karena Wanita dewasa: 12-16 gm/dl.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Hemaglobin berfungsi untuk mengikat O2 yang kita hirup dan memberikan warna merah pada sel darah.

Hasil praktikum uji hemaglobin yang menggunakan sampel darah mahasiswa memiliki skala : 14, 6 g %

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Guyton, A.C, 1983, Buku Teks Fisiologi Kedokteran, edisi V, bagian 2, terjemahan Adji Dharma et al.,E.G.C., Jakarta.

 

Tjokroprawiro, A, 1997, Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Sherwood, L, 2001, ”Organ Endokrin Perifer”, Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem, Terj. Bramh U. Pendit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

 

Sukandar, E., Yulinah., (Tim Redaksi ISFI), 2008, Iso Farmakoterapi, PT. ISFI, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A.C, 1983, Buku Teks Fisiologi Kedokteran, edisi V, bagian 2, terjemahan Adji Dharma et al.,E.G.C., Jakarta.

Tjokroprawiro, A, 1997, Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sherwood, L, 2001, ”Organ Endokrin Perifer”, Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem, Terj. Bramh U. Pendit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Sukandar, E., Yulinah., (Tim Redaksi ISFI), 2008, Iso Farmakoterapi, PT. ISFI, Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s