mikosis

MIKOSIS SUPERFISIAL

Kelompok VIII:
Arfan Sazliadi (0701055)
Femmy Andrifianie (0801011)
Jasfrida Melia (0801020)
Maulina (0801027)

PROGRAM STUDI S 1
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011

Bab I
Pendahuluan
Mikosis superfisial ialah penyakit jamur yang mengenai lapisan permukaan kulit, yaitu stratum korneum, rambut dan kuku. Mikosis superfisial dibagi dalam dua kelompok: disebabkan oleh jamur bukan golongan dermatofita dan yang disebabkan jamur dermatofita
Kelainan yang ditimbulkan berupa bercak yang berwarna berbeda dengan warna kulit, berbatas tegas dan disertai rasa gatal atau tidak member gejala. Pada penyakit menahun, terutama bila terdapat infeksi sekunder oleh kuman, batas dan warna mungkin tidak jelas lagi.
Diagnosis dibuat dengan mengambil kerokan kulit yang diperiksa secara langsung dengan membuat sediaan KOH dan yang dibiakkan pada agar Sabouraud dekstrosa.

Bab II
Isi
1. Mikosis superfisial bukan dermatofitosis
a. Pitiriasis versikolor
Sejarah
Pitiriasis versikolor atau panu sudah lama dikenal, tetapi penyebabnya baru pada tahun 1846 dan 1847 dibuktikan oleh Eichstedt dan Sluyter. Pada tahun 1889 Baillon member nama Malassezia furfur pada jamur penyebab penyakit ini.
Penyebab
Pitiriasis versikolor atau panu disebabkan oleh Malassezia furfur (Pityrosporum furfur). Jamur ini mudah ditemukan pada kulit penderita.
Distribusi geografik
Pitiriasis versikolor didapatkan diseluruh dunia.
Morfologi
Malassezia furfur sukar dibiak. Pada kulit penderita jamur tampak sebagai spora bulat dan hifa pendek.
Patologi dan gejala klinis
Manusia terinfeksi jika hifa atau spora jamur melekat pada kulit. Lesi dimulai dengan bercak kecil tipis yang kemudian menjadi banyak dan menyebar, disertai adanya sisik. Kelainan kulit pada penderita panu tampak jelas, sebab pada orang kulit berwarna panu ini merupakan bercak dengan hipopigmentasi, sedangkan pada kulit orang putih sebagai bercak hiperpigmentasi. Dengan demikian warna kelainan kulit ini dapat bermacam-macam (versikolor). Kelainan kulit tersebut terutama pada tubuh bagian atas (leher, muka, lengan, dada, perut, dan lain-lain), berupa bercak yang bulat kecil-kecil (nummular), atau lebar seperti plakat pada panu yang sudah menahun. Biasanya tidak ada keluhan, ada rasa gatal bila berkeringat.
Bila kulit panu disinari dengan ultra violet, maka tampak fluoresensi hijau kebiru-biruan. Reaksi ini disebut Wood’s light positif.
Diagnosi
Panu cukup dengan pemeriksaan langsung bahan kerokan kulit yang ada kelainan. Pada sediaan langsung dengan larutan KOH 10%, jamur tampak sebagai spora berkelompok dan juga hifa pendek yang berkelompok.
Dan pemeriksaan dengan sinar UV juga bisa dipakai untuk diagnosis.
Pengobatan
Pada kelainan yang kecil, dapat diberikan pengobatan lokal, dengan preparat salisil (tinktur salisil spiritur), preparat devirat imidazol (salep mikonazol, isokonazol, salep klotrimazol, ekonazol) dan tolnaftat bentuk tinktur atau salep. Bila kelainan meliputi hamper seluruh tubuh, obat oral yang sistemik yaitu ketokonazol member hasil yang yang baik. Agar pengobatan berhasil baik, infeksi ulang harus dicegah, misalnya dengan merebus baju agar semua spora jamur mati.
Epidemiologi
Penyakit ini ditemukan diseluruh dunia , terutama pada iklim panas. Penularan terjadi jika berkontak dengan jamur penyebab. Oleh karena itu factor kebersihan pribadi sangat penting. Tetapi pada kenyataannya, ad oraang yang mudah terkena infeksi dan ada yang tidak.

b. Otomikosis
Penyebab
Penyakit jamur pada liang telinga yang disebabkan oleh berbagai jamur, yang terbanyak adalah Aspergillus, Penicillum, Mucor, Rhizopus dan Candida.
Distribusi geografik
Terdapat diseluruh dunia.
Morfologi
Jamur penyebab otomikosis merupakan jamur kontaminan yang terdapat di udara bebas. Aspergillus dan Penicillum membentuk spora aseksual yang tersusun seperti rantai yang disebut konidia (aleuriospora). Konidia ini dibentuk pada suatu ujung hifa khusus yang disebut konidiofora. Spora aseksual yang dibentuk oleh Mucor dan Rhizopus, ialah sporangiospora yang letaknya di dalam suatu gelembung sporangium. Rhizopus mempunyai rhizoid (akar semu), sedangkan Mucor tidak. Semua jamur ini membentuk koloni filamen pada biakan. Jamur Candida terdiri atas sel-sel ragi yang kadang-kadang bertunas (blastospora), dan hifa-hifa semu (yaitu hifa yang terbentuk dari rantaian blastospora) yang memanjang dan menyempit pada sekatnya. Jamur ini membentuk kolini “seperti koloni” pada biakan.
Patologi dan gejala klinis
Mikosis superfisisal ini mengenai kulit liang telinga yang dapat bersifat akut atau menahun, biasanya unilateral, tetapi dapat juga bilateral. Liang telinga merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya jamur, karena suasananya lembab. Apalagi keadaannya yang terbuka, memudahkan jamur-jamur kontaminan yang ada di udara bebas masuk kedalam. Keluhan penderita adalah rasa gatal dan rasa penuh dalam telinga (menutup liang telinga). Hingga pendengaran terganggu. Pada otomikosis yang sudah menahun, sisik-sisik yang mengandung jamur dapat meliputi seluruh kulit disekitar liang telinga sebelah luar. Kadang terjadi infeksi sekunder dengan rasa gatal dan nyeri.
Diagnosis
Bahannya, serumen diambil dengan kapas steril atau kulit liang telinga.
Diagnosis otomikosis ialah dengan menemukan hifa atau spora jamur penyebab pada kotoran telinga atau kerokan kulit liang telinga, dengan cara pemeriksaan langsung sediaan KOH 10%.
Untuk identifikasi jamur penyebabnya, bahan klinis perlu dibiak pada agar Sabouraud lalu diperiksa morfologi koloni-koloni yang tumbuh pada biakan.
Pengobatan
Pengobatan otomikosis yang terutama ialah mengeluarkan kotoran liang telinga dan kemudian menjaga kebersihan liang telinga tersebut. Bila perlu dapat diberikan obat local anti jamur ke dalam liang telinga penderita, setelah dilakukan irigasi untuk membersihkan serumen dan kotoran lain
Epidemiologi
Penyakit ini ditemukaan diseluruh dunia (kosmopolit), terutama didaerah yang panas dan lembab, misalnya Indonesia. Kebiasaan mengorek-ngorek telinga mempermudah terjadinya infeksi. Serumen telinga ada yang basah dan ada yang kering. Jamur mudah tumbuh pada serumen yang basah. Oleh karena itu telinga dengan serumen basah perlu mendapat perhatian.

c. Piedra
Kata “piedra” berarti batu. Piedra ialah infeksi jamur pada rambut, berupa benjolan yang melekat erat pada rambut, berwarna hitam atau putih kekuningan.
Ada duamacam piedra:
o Piedra hitam
Penyebab
Piedra hitam ialah infeksi jamur pada rambut yang disebabkan oleh jamur Piedraia hortai.
Distribusi geografik
Penyakit ini ditemukan didaerah tropic, termasuk Indonesia.
Morfologi
Jamur ini tergolong kelas ascomycetes dan membentuk spora seksual. Dalam sediaan KOH, pada rambut dengan benjolan hitam terlihat daerah-daerah lebih jernih, berbentuk bulat atau lonjong, yaitu askus yang berisi 2-8 askospora. Askospora berbentuk lonjong agak memanjang agak melengkung dengan ujung-ujung nya meruncing.
Piedraia hortai, termasuk jamur Dematiaceae. Pada sediaan langsung dari koloni yang padat ini terlihat hifa hitam berseptum. Dalam koloni yang padat tersebut juga dibentuk askus yang berisi askospora.
Patologi dan gejala klinis
Infeksi terjadi karena rambut rontok dengan spora penyebab. Piedra adalah penyakit yang mengenai rambut, terutama rambut kepala. Kelainan berupa benjolan yang sangat keras berwarna coklat kehitaman. Benjolan pada piedra sulit dilepaskan, bila dipaksa juga maka rambut akan patah.
Penyakit ini tidak menimbulkan keluhan selain bahwa rambut mudah patah bila disisir. Karena adanya benjolan-benjolan ini, maka terdengar bunyi bila penderita menyisir rambutnya.
Diagnosis
Diagnosis piedra hitam ialah dengan memeriksa benjolan pada rambut.
Pada pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10% tampak jamur merupakan anyaman padat dari hifa yang berwarna tengguli. Didalam anyaman jamur ini, tampak bagian-bagian yang jernih, yaitu askus-askus yang masing-masing mengandung 2-8 askospora.
Pengobatan
Dengan memotong rambut yang terkena infeksi atau mencuci kepala setiap hari dengan larutan sumblimat 1/2000 atau shampoo yang mengandung antimikotik.
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat diberbagai daerah tropic didunia, diantaranya di Indonesia. Penularan penyakit ini mudah terjadi melalui sisir dan alat-alat potong rambut lainnya, misalnya di salon, pemangkas rambut yang kurang menjaga kebersihan alat-alat tersebut, dan kebiasaan pinjam meminjam sisir.
o Piedra putih
Penyebab
Infeksi jamur pada rambut yang disebabkan oleh Trichosporon beigelii. Piedara putih ditemukan pada rambut ketiak dan pubis, jarang mengenai rambut kepala.
Distribusi geografik
Penyakit ini jarang ditemukan, terdapat di daerah beriklim sedang.
Morfologi
Jamur penyebab piedra putih mempunyai hifa yang tidak berwarna, termasuk MONOLIACEAE.
Berbeda dengan piedra hitam, benjolan pada piedra putih terlihat lebih memanjang pada rambut dan tidak padat. Benjolan mudah dilepas dari rambut. Tidak terlihat askus dalam massa jamur. Berbeda dengan Trichomycosis axillaris dalam benjolan hifa berukuran 2-4 mikron dan terlihat atrospora dan atrokonidia.
Patologi dan gejala klinis
Kelainan rambut tampak sebagai benjolan yang berwarna putih kekuningan. Selain pada rambut kepala, dapat juga menyebabkan kelainan pada rambut kumis dan rambut janggut.
Diagnosis
Memeriksa benjolan yang ada pada rambut. Pada pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10%, tampak anyaman hifa yang padat, tidak berwarna atau berwarna putih kekuningan.
Pengobatan
Dengan memotong rambut yang terkena infeksi atau mencuci daerah dengan rambut yang terkena setiap hari dengan larutan sublimat 1/2000 atau sampho yang mengandung ketokonazol.
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat diberbagai daerah dingin di dunia, belum pernah ditemukan di Indonesia. Kebersihan dijaga untuk mencegah penularan.
d. Onimikosis
Penyebab
Onimikosis disebabkaan oleh berbagai macam jamur, terutama disebabkan oleh Candida dan dermatofita. Kadang-kadang dapat pula disebabkan oleh Fusarium, Cephalosporium, Scopulariopsis, Aspergillus, dan lain-lain. Penyakit jamur yang disebabkan oleh dermatofita, disebut tinea unguium (unguium = kuku).
Distribusi geografik
Tersebar diseluruh dunia.
Morfologi
Candida adalah jamur yang mempunyai sel ragi (blastospora) dan hifa semu (pseudohypha). Dermatofita adalah jamur berkoloni filamen dengan konidianya yang khas untuk masing-masing spesies. Jamur lainnya adalah jamur kontaminan dengan morfologinya masing-masing.
Patologi dan gejala klinis
Infeksi jamur ini dapat mengenai satu kuku atau lebih. Kuku yang menderita onimikosis mempunyai permukaan tidak rata, tidak mengkilat. Selain itu kuku yang terkena menjadi rapuh atau mengeras. Kelainan ini dapat dimulai dari bagian proksimal atau dari bagian distal kuku. Bila penyebabnya Candida, sering disertai dengan paronikia (yaitu radang jaringan disekitar kuku).
Diagnosis
Bahan: kerokan kuku.
Pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10%, tampak jamur sebagai hifa atau spora. Untuk mengetahui spesie dilakukan biakan pada agar Sabouraud (+ antibiotic) dan kemudian diperiksa koloni yang tumbuh.
Pengobatan
Penyakit ini membutuhkan pengobatan yang lama, biasanya dalam beberapa bulan, karena penggantian kuku ini memerlukan waktu kurang lebih 6 bulan.
Pengobatan onimikosis sebaiknya dilakukan dengan obat yang berbentuk cairan, agar obat dapat masuk ke sela-sela rongga kuku yang rapuh. Caranya yaitu dengan mengoleskan tinktur anti jamur (misalnya larutan derivate azol) pada kuku yang sakit selama beberapa bulan, sampai kuku yang baru bebas jamur, tumbuh sempurna seluruhnya. Untuk mempercepat penyenbuhan sebaiknya kuku yang terkena dipotong pendek.
Pengobatan lain denga derivate azol yang diberikan secara oral. Ketokonazol dapat diberikan 1 x 400 mg/hari, itrakonazol diberikan 1 x 400 mg dan flukonazol 1 x 100 mg untuk penderita dengan berat badan 60 kg atau lebih. Untuk menghindari efek samping dianjurkan pemberian selama 7 -10 hari berturut-turut tiap bualan.
Epidemiologi
Penyakit ini ditemukan diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Kadang-kadang seorang penderita onikomikosis juga sedang menderita mikosis dibagian lain dari tubuh. Bila penyebabnya jamur yang sama, mungkin mikosis tersebut menjadi sumber infeksi bagi onikomikosisnya yang ditularkan pada kuku setelah menggaruk.
e. Tinea Nigra Palmaris/plantaris
Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah Cladosporium wernecki atau Cladosporium mansoni.
Distribusi geografik
Tinea Nigra Palmaris banyak ditemukan di Amerika Selatan dan tengah, di Eropa dan Asia juga pernah ditemukan, tetapi di Indonesia sangat jarang.
Morfologi
Jamur ini termasuk dematiaceae yang membentuk koloni berwarna coklat hitam. Pada biakan tumbuh kolini berwarna hitam dan padat. Sediaan langsung koloni ini menunjukkan hifa berseptum dan berwarna coklat/hitam.
Patologi dan gejala klinis
Penyakit ini mengenai stratum korneum telapak tangan atau kaki dan menimbulkan bercak-bercak yang berwarna tengguli hitam, kadang-kadang tampak bersisik. Keluhan penderita ialah dari segi kosmetik, karena bercak tersebut memberi kesan kotor pada tangan atau kaki, dan kadang-kadang juga terasa gatal.
Diagnosis
Bahan yang diperiksa adalah kerokan kulit ditempat kelainan. Pada pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10%, jamur tersebut tampak sebagai kelompok hifa dan kelompok spora yang berwarna hitam atau hijau tua.
Pengobatan
Karena jarang ditemukan, maka belum banyak pengalaman pengobatan, dapat dicoba dengan itokonazol seperti onikomikosis.
Epidemiologi
Di Indonesia, penyakit ini sangat jarang ditemukan, walau jamur penyebab ada.
2. Mikosis superfisial dermatofitosis
Sejarah
Dermatofitosis telah di kenal sejak zaman yunani kuno.orang yunani kuno menamakanya “herpes” oleh Karena bentuk kelainan merupakan lingkaran yang makin lama makin besar (ring). Orang romawi menghubungkan kelainan ini dengan larva cacing, dan menamakannya “tinea”. Perpaduan antara herpes (ring) dan tinea (worm) dalam bahasa inggris melahirkan istilah ring worm.
Sabouraud mempelajari dermatofitosis pada tahun 1890 dan kemudian menulis buku berjudul “les teigne” (1910) yang memuat seluruh hasil-hasil penelitian mengenai dermatofitosis selama 20 tahun. Pada tahun 1933 emmos mengelompokan penyebab dermatofitosis dalam 3 genus,yaitu Trichophyton,microsporum dan epidermophyton.
Penyebab
Dermatofitosis disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Dermatofita merupakan golongan jamur yang mempunyai sifat dapat mencernakan keratin. Berdasarkan sifat morfologi, dermatofita di kelompokkan dalam 3 genus : trichophyton, microsporum, dan epidermiphyton. Enam spesies penyebab utama dermatofitosis di Indonesia ialah trichophyton rubrum, trichophyton mentagrophytes, microsporum canis, microsporum gypseum, trichophyton concentricum dan epidermophyton floccosum.
Penyakit yang di timbulkan
Pada umumnya dermatofitosis pada kulit mempunyai morfologi yang khas yaitu kelainan bentuk lingkaran yang berbatas tegas oleh vesikel-vesikel kecil dengan dasar kelainan berwarna kemerahan dan tertutup dengan sisik-sisik.jamurnya terdapat di sisik-sisik tersebut dan di dinding vesikel.keluhan penderita ialah gatal terutama bila berkeringat.
Dermatofita dan banyak jamur lain dapat menimbulkan reaksi alergi yang di sebut reaksi –id.dermatofita menimbulkan dermatifitid yaitu berbentuk vesikel-vesikel yang biasanya timbul di telapak jari tangan dan kaki. Reaksi tersebut juga dapat timbul di bagian tubuh lain. Vesikel-vesikel tidak mengandung jamur dan disertai rasa gatal.bila kemudian terjadi infeksi oleh kuman maka visikel berubah menjadi pustule yang di sertai rasa sakit.
Pengobatan
Biasanya kelainan berbatas tegas sehingga dapat di obati dengan obat setempat yaitu larutan spiritus atau salep yang mengandung bahan fungistatik (fungisid) dan keratinolitik misalnya sulfur dan asam salisilat obat setempat yang baru mengandung derivate azol, misalnya mikonazol, klotrimazol, ketokonazol, bifonazol dll, naftillin, terbinafin, siklopiroksolamin dan amorolfin.
Pencegahan
Kebersihan lingkungan dan kebersihan diri sendiri.

a. Tinea kapitis
Penyebab
Penyebabnya spesies microsporum dan trichophyton.
Distribusi geografi
Di daerah tropic maupun daerah subtropik juga di temukan di Indonesia.
Penyakit
Kelainan ini mengenai kulit dan rambut kepala dan lebih banyak terdapat pada anak. Terdapat 3 bentuk klinis tinea kapitis:
1. Grey patch ringworm
Bentuk ini terutama disebabkan oleh Microsporum audouinii (Mulyono, 1986). Bentuk ini ditemukan pada anak-anak dan biasanya dimulai dengan timbulnya papula merah kecil di sekitar folikel rambut. Papula ini kemudian melebar dan membentuk bercak pucat karena adanya sisik. Penderita mengeluh gatal, warna rambut menjadi abu-abu, tidak berkilat lagi. Rambut menjadi mudah patah dan juga mudah terlepas dari akarnya. Pada daerah yang terserang oleh jamur terbentuk alopesia setempat dan terlihat sebagai grey patch. Bercak abu-abu ini sulit terlihat batas-batasnya dengan pasti bila tidak menggunakan lampu Wood. Pemeriksaan dengan lampu Wood memberikan fluoresensi kehijau-hijauan sehingga batas-batas yang sakit dapat terlihat jelas.
2. Kerion
Merupakan tinea kapitis yang terutama disebabkan oleh Microsporum canis (Mulyono, 1986). Bentuk yang disertai dengan reaksi peradangan yang hebat. Lesi berupa pembengkakan menyerupai sarang lebah, dengan sebukan radang di sekitarnya. Kelainan ini menimbulkan jaringan parut yang menetap.
3. Black dot ringworm
Merupakan tinea kapitis yang terutama disebabkan oleh Trichophyton tonsurans dan Trichophyton violaceum (Mulyono, 1986). Gambaran klinis berupa terbentuknya titik-titik hitam pada kulit kepala akibat patahnya rambut yang terinfeksi tepat di muara folikel. Ujung rambut yang patah dan penuh spora terlihat sebagai titik hitam.
Diagnosis banding pada tinea kapitis adalah alopesia areata, dermatitis seboroik dan psoriasis (Siregar, 2005).

b. Tinea korporis
Penyebab
Penyebab ialah spesies dari trichophyton, microsporum dan E.floccosum
Distribusi geografi
Di daerah tropic maupun daerah subtropik juga di temukan di Indonesia.
Patologi dan gejala klinis
Kelainan mengenai kulit badan,lengan,dan tungkai.pada stadium akut gambaran klinis khas.bila telah menahun batas sering tidak jelas dan dapat terlihat infeksi sekunder oleh kuman karena garukan.
c. Tinea Imricata
Penyebab
Penyebab ini di sebabkan oleh satu spesies yaitu T.concentricum.penyakit ini juga di kenal sebagai Tokelau dan Dajake schurft.
Distribusi geografik
Penyakit ini banyak terdapat di daerah tropic dan terdapat endemis di beberapa daerah di Indonesia (jawa,Kalimantan,irian jaya,dll).
Patologi dan gejala klinis
Kelainan dapat meliputi seluruh badan kecuali kepala yang berambut, telapak tangan dan kaki.kelainan berupa fisik kasar yang berbentuk secara konsentris dan sisik itu terlepas di bagian dalam lingkaran sehingga terlihat seperti susunan genteng.pada stadium lanjut banyak timbul pusat-pusat susunan sisik konsentris tersebut sehingga kemudian tidak terlihat lagi susunan sisik konsentris tetapi sisik kasar yang tidak beraturan melapisi kulit.

d. Tinea Favosa
Penyebab
Penyebab utama ialah T.shoenleini,kadang-kadang juga T.violaceum dan M.gypseum.
Distribusi geografik
Penyakit terdapat terutama di polandia,rusia,mesir.balkan,dan negeri-negeri sekitar laut tengah jarang di temukan di Indonesia.
Patologi dan gejala Klinis
Kelainan terdapat pada kulit kepala dan dapat menyebar ke tubuh dan kuku menimbulkan bau yang khas di sebut mousy odor.kelainan berupa scutula di bentuk oleh sisik-sisik sperti kerucut.di bagian kepala dapat menyebabkan pitak yang menetap (alopesia permanen).bila tidak dapat di obati,kelainan dapat menyebabkan pitak.

e. Tinea Kruris
Penyebab
Penyebab penyakit ialah spesies dari Trichophyton,microsporum dan E.floccosum.
Distribusi Geografik
Penyakit terdapat baik di daerah tropic maupun di daerah dingin.banyak di temukan di Indonesia.
Patologi Dan Gejala Klinis
Kelainan mengenai kulit di daerah inguinal, paha bagian dalam dan perineum. Kelainannya seperti telah di terangkan di bagian umum.

f. Tinea Pedis
Penyebab
Semua genus dermatofita meskipun lebih sering di sebabkan oleh Trichophyton.
Distribusi geografik
Penyakit terdapat baik di daerah tropic maupun daerah lainnya.banyak terdapat di Indonesia.
Patologi dan gejala klinis
Kelainan mengenai kulit di antara jari-jari kaki,terutama antara jari ke 3-4 dan ke 4-5,telapak kaki dan bagian lateral kaki.karena tekanan dan kelembaban maka gambaran klinis khas dermatofitosis tidak terlihat.bila terjadi infeksi sekunder oleh kuman dapat timbul pustula dan rasa nyeri.faktor predisposisi berupa kaki yang selalu basah,baik oleh air (tukang cuci ),Maupun keringat (sepatu tertutup dan memakai kaos kaki).sering terjadi maserasi kulit yang terkena.

g. Tinea Barbae
Penyebab
Penyakit ini terutama di sebabkan oleh berbagai spesies jamur yang zoofilik misalnya T.verrucosum.
Distribusi geografik
Penyakit ini belum pernah di temukan di Indonesia.
Patologi dan gejala klinis
Kelainan pada kulit di sertai folikulitis (radang pada folikel rambut) terdapat di daerah dagu dan dapt menyebar.bila di sebabkan oleh jamur zoofilik,kelainan ini dapt menyebabkan semua rambut yang terkena penyakit menjadi rontok.penyakit ini dapat sembuh tanpa pengobatan.

h. Tinea Unguium
Penyebab
Kelainan ini di sebabkan oleh jamur dermatofita biasanya spesies E.floccosum dan genus Trichophyton. Pernah dilaporkan genus Microsporum menginfeksi kuku.
Distribusi geografik
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia,juga di Indonesia.
Patologi dan gejala klinis
Kelainan ini hanya mengenai satu kuku atau lebih.permukaan kuku tidak rata. Kuku menjadi rapuh dan keras,dan kuku yang terkena dapat terkikis.penyembuhan penyakit ini memerlukan waktu beberapa bulan sampai satu tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s