pemeriksaan aviditas dan titer antisera

LAPORAN PRAKTIKUM SEROLOGI IMUNOLOGI
PEMERIKSAAN AVIDITAS DAN TITER ANTISERA

DI SUSUN

OLEH :
Maulina (0801027)

Kelompok III

Tanggal praktikum: 17 November 2011

Dosen: Dra. Syilvia Hasti, M.Farm., Apt

Asisten:

May Christiani

Gusti Wahyu Ramadhani

PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011

PEMERIKSAAN AVIDITAS DAN TITER ANTISERA

  1. TUJUAN PRAKTIKUM :

–          Untuk mengetahui cara pemeriksaan aviditas dan titer antisera.

–          Untuk menghitung waktu ternya penggumpalan

  1. TINJAUAN PUSTAKA :

Antiserum (jamak: antiserum) adalah serum darah yang mengandung poliklonal antibodi. Antiserum digunakan untuk menyampaikan pasif kekebalan banyak penyakit. Transfusi antibodi pasif dari korban manusia sebelumnya adalah pengobatan yang efektif hanya dikenal untuk Ebola infeksi (tetapi dengan tingkat keberhasilan kecil).

Reaksi antigen-antibodi yang digunakan pada serologi diagnostic:

 

  1. Uji Presipitasi

 

Presipitasi terjadi antara molekul Ab dan Ag pada bentuk solubel. Pada pengujian ini antigen berbentuk koloidal. Laju presipitasi sangat tergantung pada proporsi antigen dan antibodi pada campuran. Terdapat beberapa cara pengujian pada metode presipitasi, yakni:

  1. Uji tabung

Dengan mencampur pada tabung, masukkan dilusi antigen atau antibodi dengan jumlah tertentu. Dilusi dilakukan dari konsentrasi tinggi (tabung pertama) sampai konsentrasi terendah (tabung terakhir). Presipitat timbul pada tabung yang mengandung Ag dan Ab secara proporsional.

  1. Presipitasi Cincin

Antigen dilapiskan pada serum (antibodi), terjadi difusi setelah mencapai ikatan proporsional dengan antibodi akan menghasilkan presipitasi berbentuk cincin.

 

 

  1. Difusi Gel

Pada pengujian ini memungkinkan antigen dan antubodi berdifusi perlahan dari arah tertentu melalui gel. Pada cara ini homogenitas dan derajat kemurnian dari berbagai antigen dapat diuji. Pita presipitasi terbentuk pada setiap antigen dapat saling bertemu, atau bersilangan menunjukkan:

–          bersambungan, antigen identik secara imunologik (terhadap serum uji)

–          bercabang, antigen berhubungan sebagian

–          bersilangan, menunjukkan antigen tidak berhubungan

 

  • Metode difusi tunggal

Di sini anti serum dalam agar semi solid, zona buffer dari agar dan antigen terpisah secara vertikal dalam tabung. Garis presipitasi terbentuk dalam zona buffer.

  • Metode difusi ganda

Agar dituang pada plat. Di bagian tengah diisi antigen atau antiserum sedangkan sera atau ekstrak di bagian tepi. Pita presipitasi terbentuk dalam gel pada posisi Ag dan Ab mencapai proporsi optimal setelah berdifusi. Dapat dimodifikasi dengan uji mikrodilusi menggunakan obyek gelas

  • Immunoelektroforesis

Jika terdapat sejumlah Ag dalam larutan seperti serum, sulit memisahkan pita presipitasi yang timbul pada setiap reaksi Ab-Ag, bila hanya menggunakan cara difusi di atas. Komponen serum dipisahkan dengan elektroforesis dalam agar gel dan antiserum dibiarkan berdifusi melalui komponen yang dihasilkan pada pita-pita yang terbentuk.

  • Elektroforesis “roket”

Merupakan metode kuantitatif, dilakukan elektroforesis antigen ke dalam gel yang telah mengandung antibodi. Presipitasi yang terjadi berbentuk roket, panjang masing-masing roket menunjukkan konsentrasi antigen.

  • Immunodifusi  radial tunggal

Antiserum monospesifik ditambahkan ke dalam gel, kemudian dituang pada slide petridisk atau lempeng plastik. Dibuat lubang gel, larutan antigen dimasukkan pada lubang. Terjadi difusi sehingga terbentuk zona sirkuler yang menunjukkan jarak proporsional dengan jumlah antigen yang ditambahkan pada setiap lubang. Kuantitasi antigen yang diperiksa diketahui dari perbandingan cincin presipitasi dibandingkan dengan cincin presipitasi kontrol.

 

  1. Uji aglutinasi

Digunakan untuk antigen berukuran besar, pada reaksi ini antibodi dikontakkan dengan antigen yang merupakan bagian permukaan suatu material misalnya eritrosit, mikroorganisme atau partikel anorganik (polystyrenelatex) yang telah dicoated dengan Ag. Reaksi Ab-Ag membentuk agregat yang dapat diamati atau aglutinasi.

 

  1. Uji Litik

Uji ini tergantung pada proses lisis dari darah atau bakteri dari suatu sistem yang mengandung antigen, direaksikan dengan antibodi dan komplemen. Antigen yang digunakan berupa :

  1. Sel (uji litik langsung)
  2. Bahan yang diadsorbsikan pada eritrosit atau lekosit (uji litik tidak langsung)

 

  1. 4.       Serological Inhibition Test

Untuk mendeteksi netralisasi antigen dan antibodi dengan mendemonstrasikan hambatan pada reaksi tertentu yang secara normal terjadi pada antigen atau organisme.

Aplikasi:

–                      Deteksi antistreptolisin O

–                      Animal protection test

–                      Viral haemagglutination inhibition

–                      Viral neutralization test menggunakan CPE pada kultur

 

  1. 5.       Immunoflourescence

Cat flourescence atau rhodamin diikatkan pada antibodi tanpa merusak spesifitasnya. Suatu konjugat dikombinasi dengan antigen (misalnya potongan jaringan) dan diikat oleh antibodi akan tampak dengan mikroskop UV, distribusi Ag pada jaringan atau sel

 

  1. 6.       Skin Test

Memanfaatkan reaksi kulit sebagai indikator sistem. Ada dua cara:

  • Pasif, bila antigen dan serum diinokulasikan, misalnya menguji toksin-antitoksin
  • Aktif, bila status immunologik diuji

Skin test digunakan untuk mengetahui adanya:

–                      Antibodi terhadap bakteri

–                      Reaksi alergi

 

  1. 7.       Antigen Binding Techniques

Metode ini digunakan untuk mengethui level antibodi dengan menentukan kapasitas antiserum dalam kompleks dengan antigen radioaktif, atau dengan mengukur jumlah immunoglobulin yang mengikat larutan antigen yang diberikan. Ada dua macam cara pada metode ini:

–                      Radioimmunoassay

–                      Teknik sandwich

 

 

 

 

 

 

  1. CARAKERJA:

ALAT DAN BAHAN:

Alat :

  • Pipet tetes
  • Objek glass
  • Tabung reaksi 5 ml
  • Tusuk gigi
  • Stopwatch

Bahan :

  • Larutan eritrosit 5% Gol A, B, AB, O
  • Larytan NaCL

PROSEDUR :

  1. Uji aviditas antisera
  2. Pengujian aviditas dilakukan terhadap antisera yang memberikan reaksi aglutinasi terhadap antigen erotrosit reaksi (+) pada uji spesifitas.
  3. Pengerjaan pengujian sama dengan uji spesifitas, tapi disini yang dihitung berapa lama waktu yang diperlukan mulai di tetesi larutan eritrosit 5 % sampai terbentuk aglutinasi.
  4. Tabelkan waktu yang diperoleh untuk terjadi aglutinasi tersebut.
  5. Uji titer antisera
  6. Pada rak, letakkan secara berurutan 10 buah tabung reaksi kecil yang masing-masingnya telah di tandai dengan ½, ¼ sampai 1/512  dan K (kontrol).
  7. Pada tabung reaksi ke 1 (½) sampai dengan tabung ke 9 (1/512  ) dimasukkan larutan NaCL sebanyak 0,2 ml (4 tetes) dan pada tabung K 8 ml.
  8. Pada tabung reaksi ke 1 di tambahkan antisera (golongan A) sebanyak 0,2 ml ( 4 tetes), lalu aduk.
  9. Ambil 0,2 ml  ( 4 tetes ) larutan pada tabung ke 1 dan masukkan ke tabung reaksi ke 2, aduk dan begitu seterusnya sampai tabung reaksi ke 9 dan tabung reaksi ke 9 ini dibuang 0,2 ml (4 tetes).
  10. Pada masing2 tabung reaksi di tambahkan suspensi eritrosit 5 % golongan B sebanyak 0,005 ml (1 tetes)
  11. Biarkan 10 ml , lalu disentrifugasi dengan kecepatan 1000 rpm selama 5 menit.
  12. Amati pengenceran yang tertinggi yang masih mengalami aglutinasi.

 

 

IV.                        HASIL :

Tidak dilakukan karena tidak terjadi penggumpalan pada hasil percobaan pemeriksaan spesifisitas antisera.

 

V.                        SARAN :

  • Saat melaksanakan praktikum hendaknya dilakukan dengan cermat agar mendapatkan hasil yang benar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI.                        DAFTAR PUSTAKA

Brahmana K. 1981. Immunologi, Serologi dan Tata Kerja Laboratorium. Medan.

 

Suryo. 1996. Genetika. Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta.

 

Yovita Lisawati. 1993. Pembuatan dan Evaluasi Antisera Penentuan Golongan Darah ABO. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang.

-indent])43.8�S�S-height:normal’>Suryo. 1996. Genetika. Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta.

 

 

Yovita Lisawati. 1993. Pembuatan dan Evaluasi Antisera Penentuan Golongan Darah ABO. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s