PEMERIKSAAN URINE SECARA MAKROSKOPIS & PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIK
PEMERIKSAAN URINE SECARA MAKROSKOPIS
&
PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE

DI SUSUN
OLEH :
Maulina (0801027)
Kelompok II

Tanggal praktikum: 28 Maret 2012
Dosen: Dra. Sylvia Hasti, M.Farm., Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
2012

PEMERIKSAAN URINE SECARA MAKROSKOPIS

TUJUAN
Untuk mengetahui volume, warna, kelarutan, keasaman / reaksi, berat jenis dan bau urine.

PRINSIP
Adanya kelainan pada ginjal dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan urine secara makroskopis.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Urine :
Urine atau air seni atau air kencing merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Urine normal biasanya berwarna kuning, berbau khas jika didiamkan berbau ammoniak, pH berkisar 4,8 – 7,5 dan biasanya 6 atau 7. Berat jenis urine 1,002 – 1,035. Volume normal perhari 900 – 1400 ml.

Proses Terbentuknya Urine :
Penyaringan darah pada ginjal lalu terjadilah urine. Darah masuk ginjal melalui pembuluh nadi ginjal. Ketika berada di dalam membrane glomenulus, zat-zat yang terdapat dalam darah (air, gula, asam amino dan urea) merembes keluar dari pembuluh darah kemudian masuk kedalam simpai/kapsul bowman dan menjadi urine primer. Proses ini disebut filtrasi. Urine primer dari kapsul bowman mengalir melalui saluran-saluran halus (tubulus kontortokus proksimal). Di saluran-saluran ini zat-zat yang masih berguna, misalnya gula, akan diserap kembali oleh darah melalui pembuluh darah yang mengelilingi saluran tersebut sehingga terbentuk urine sekunder. Proses ini disebut reabsorpsi.
Urine sekunder yang terbentuk kemudian masuk tubulus kotortokus distal dan mengalami penambahan zat sisa metabolism maupun zat yang tidak mampu disimpan dan akhirnya terbentuklah urnine sesungguhnya yang dialirkan ke kandung kemih melalui ureter. Proses ini disebut augmentasi. Apabila kandung kemih telah penuh dengan urine, tekanan urine pada dinding kandung kamih akan menimbulkan rasa ingin buang air kecil atau kencing.
Banyaknya urine yang dikeluarkan dari dalam tubuh seseorang yang normal sekitar 5 liter setiap hari. Faktor yang mempengaruhi pengeluaran urine dari dalam tubuh tergantung dari banyaknya ar yang diminum dan keadaan suhu apabila suhu udara dingin, pembentukan urine meningkat sedangkan jika suhu panas, pembentukan urine sedikit.
Pada saat minum banyak air, kelebihan air akan dibuang melalui ginjal. Oleh karena itu jika banyak minum akan banyak mengeluarkan urine. Warna urine setiap orang berbeda-beda. Warna urine biasanya dipengaruhi oleh jenis makanan yang dimakan, jenis kegiatan atau dapat pula disebabkan oleh penyakit. Namun biasanya warna urine normal berkisar dari warna bening sampai warna kuning pucat.

Gambar: pembentukan urine

Komposisi Urine :

• Air ( seperti urea )
• Garam terlarut
• Materi organik
Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urine berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urine dapat diketahui melalui urinalisis.
Untuk mendeteksi penyakit yang diderita dapat dengan melakukan analisis urine. Seperti penyakit Diabetes, Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urine. Urine seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urine orang yang sehat.

Fungsi urine :
• Fungsi bagi tubuh :
untuk membuang zat sisa metabolisme seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Urine dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urine yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urine berwarna kuning pekat atau cokelat. Juga sebagai pengatur kesetimbangan tubuh seperti tekanan darah.
• Fungsi bagi tanaman :
Sebanyak 70% bahan makanan (nutrisi) yang dikonsumsi manusia dikeluarkan dalam bentuk air seni. Dalam setahun, seseorang dapat mengeluarkan air kencing kira-kira sebesar 500 liter. Jumlah ini setara dengan 4 kg nitrogen, 0.5 kg fosfor, dan 1 kg potasium. Ketiganya termasuk unsur penting dalam pertumbuhan tanaman.

ALAT DAN BAHAN :
• Alat-alat :
o Tabung reaksi
o Beker glass
o Gelas ukur
o Kertas pH
• Bahan-bahan :
o Urine pagi
o Urine sewaktu
o Aquadest

CARA KERJA :
1. Volume
Masukkan urin pada gelas ukur dan lihat berapa ml yang terdapat pada gelas ukur.
2. Warna
Amati warna yang terdapat pada urin bila nornal warna urin kuning muda,tapi jika makin pekat urin makin gelap, jika makin alkalis warna urin makin gelap.
3. Kekeruhan
Amati urin, bila normal maka biasanya jernih, tetapi juga bisa keruh karna beberapa faktor, antara lain karena fosfat nanah, darah, bakteri, dan spermatozoa.
4. Keasaman / reaksi
Keasaaman urin diukur dengan kertas indikator pH.
5. Berat jenis
Berat jenis urin diukur dengan alat urinometer, dan amati.
6. Bau
Amati bau yang terdapat pada urin, yaitu apakah da berbau aromatik, bau buah, atau bau jengkol

HASIL :
NO PEMERIKSAAN URIN HASIL
1. Volume Sewaktu : 10 mL
Urin 24 jam : 50 mL
2. Warna Sewaktu : kuning kecoklatan
Urin 24 jam : kuning kecoklatan
3. Kekeruhan Sewaktu : jernih
Urin 24 jam : jernih
4. Keasaman Sewaktu : pH 6
Urin 24 jam : pH 6
5. Berat jenis Sewaktu : -
Urin 24 jam : 1,033
6. Bau Sewaktu : aromatik
Urin 24 jam : aromatik

PEMBAHASAN :
Dari hasil praktikum pemeriksaan urine secara makroskopis didapat beberapa data yang dapat di simpulkan.
• Dilihat dari volume urine tidak menunjukkan gejala poliuri atau oliguri,.
• Warna urine kuning kecoklatan jadi menunjukkan bahwa pemilik urine mungkin memakai obat-obatan hingga mempengaruhi warna urine akibat pigmen-pigmen abnormal.
• Dilihat dari kekeruhan tidak terdapat kekeruhan, yaitu jernih. Ini menunjukkan bahwa kekeruhan urine normal.
• Nilai keasaman urine normal pH antara 4,7 – 7,5 dengan rata-rata 6. Dari uji yang didapat nilai pH urine 6, jadi urine ini normal. Jika urine terlalu asam maka terjadi peradangan saluran kencing atau infeksi.
• Bau urine aromatik
• Dari berat jenis yang didapat dengan alat urinometer didapat skala 1,028, dengan suhu ruang 30 ͦ C

Perhitungan seluruh = 30 ͦ C – 15 ͦ C = 15 ͦ C
15 ͦ C x 0,001 = 0,005
3
Jadi BJ urine = 1,028 + 0,005 = 1,033

Guna mengukur BJ urine yaitu untuk melihat faal ginjal.

KESIMPULAN :
• Urine merupakan sisa ekresi ginjal yang dikeluarkan oleh tubuh
• Komposisi urine : air (urea), garam terlarut, dan materi organik
• Fungsi urine : untuk membuang racun dan sisa-sisa dari darah yang harus dibuang
• Pembentukan urine yaitu dari darah baru dieksresi oleh ginjal
• Dari data urine percobaan ini dapat disimpulkan bahwa urine sampel tidak begitu memiliki penyakit yang berat atau tidak ada kerusakan ginjal (normal).

PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE

TUJUAN
Untuk mengetahui unsur-unsur patologis dalam urine.

TINJAUAN PUSTAKA
Didalam urine terdapat berbagai macam urine, hal ini terggantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urine. Kristal-kristal yang ditemukan dalam urine ini sangat lah wajar.
Kristal – kristal sedimen urine yang sering ditemukan :
1. Tripel Fosfat (Struvite) :
Kristal-kristal Struvite (magnesium amonium fosfat, fosfat rangkap tiga, Strucomp) biasanya terlihat tak berwarna, 3-dimensional, ortorombik, kadang mengkilat dengan bias putih dan hijau, bentuk seperti piramida atau prisma (penutup peti mayat), sering juga menunjukkan suatu warna polarisasi. Adakalanya, kristal ini menyerupai satu mata pisau cukur bermata dua (bagian dalam rangka) dan sedikit birefringent.
Kristal ini paling sering terlihat pada urine dari individu secara klinis normal. Meskipun demikian mereka dapat ditemukan di dalam urine pada pH tertentu, lebih banyak ditemukan dalam urine yang bersifat alkali dengan nilai pH daripada 6,5. Infeksi/peradangan saluran kemih dengan bakteri urease positif dapat memicu struvite kristaluria (dan urolithiasis) dengan peningkatan pH urine dan peningkatan amoniak bebas.
Faktor yang utama terbentuknya formasi kristal tripel fosfat adalah konsentrasi amoniak. Alkalanisasi suatu spesimen urine dengan amoniak menghasilkan tripel fosfat apabila tidak ada soda kaustik. Spesimen voided baru secara normal berisi amoniak bebas kecil dan urea yang tinggi, namun oleh bakteri pemecah urea menguraikannya menjadi amoniak sehingga kadarnya meningkat. Tripel fosfat biasanya dihubungkan dengan pertumbuhan bakteri. Pada spesimen pagi segar yang pertama, ditemukannya Tripel fosfat dapat menandakan adanya infeksi/peradangan saluran kemih. Namun begitu nilai klinis Tripel fosfat kecil untuk menduga adanya infeksi saluran kemih tanpa disertai dengan adanya leukosit dan bakteri dalam urine.
Dalam urine yang bersifat maka alkali Struvite akan mengalami presipitasi membentuk batu. Struvite sering ditemukan batu ginjal pada urine manusia dan kucing. Batu Struvite dapat menyebabkan infeksi bakteri /peradangan yang disebabkan hidrolisa urea menjadi ammonium dan terjafi kenaikan pH menjadi netral atau alkali. Urea menyebabkan berkembangnya organisme-organisme termasuk Pseudomonas, Proteus, Klebsiella, Staphylococcus, dan Mycoplasma. Akumulasi kristal-kristal struvite di dalam kandung kemih dapat menyebabkan gangguan saluran kemih, dengan gejala-gejala susah buang buang air kemih (dikira sembelit) atau hematuria. Tindakan medis termasuk operasi diperlukan untuk menghilangkan kristal ini.
2. Calcium Oxalat :
Kalsium oksalat dihidrat kristalnya pada umumnya terlihat segi empat dengan sudut diagnonal memotong didalamnya pada lapang pandang yang tampak (mirip dengan amplop). Kristal ini dapat ditemukan pada semua pH. Kristal-kristal ini ukurannya sangat bervariasi dari yang paling besar hingga kecil, terlihat memiliki indeks bias biru pada bagian dalam apabila pengamat memutar mikrometer mikroskop. Dalam beberapa hal, sejumlah besar dari oxalates yang kecil mungkin tidak berbentuk kristal khas, kecuali jika yang diuji pada magnifikasi yang tinggi.
Urolithiasis karena kalsium oksalat sudah dilaporkan pada anjing dan kucing. Pada beberapa kasus, gangguan skunder pemakaian kalsium (meningkat) seperti hiperparatiroidisme maka terjadi gangguan metabolisme dan peningkatan ekskresi kalsium oleh tubuh. Miniatur Schnauzers menjelaskan bahwa yang dapat mempengaruhi kepada kalsium oksalat urolithiasis tetapi walaupun begitu disertai juga tanpa kelainan-kelainan dalam ekskresi kalsium dalam urine.
Kristal-kristal Kalsium oksalat dihydrate dapat juga dilihat pada kasus-kasus intoksikasi etilena glikol. Hal ini dapat dilihat bila dalam urine ditemukan dalam jumlah banyak dengan gagal ginjal akaut, perlu pertimbangan diagnosis karena keracunan etilena glikol.
3. Asam Urat :
Asam urat mengeristal di dalam sistim orthorombic. Kristal-kristal asam urat dapat muncul dalam beberapa bentuk. Kristal-kristal yang klasik bersifat pelat-profil belah ketupat tipis dan yang lain membentuk plat bersudut enam, jarum dan rosette.
Kristal asam urat biasanya mempunyai karakteristik warna kuning. Intensitas warna bergantung pada ketebalan dari kristal, plat-plat sangat tipis terlihat berwarna kuning muda, sedangkan kristal yang lebih besar dan tebal mungkin akan berwarna coklat. Di bawah cahaya yang dipolarisasikan, asam urat menunjukkan suatu warna polarisasi, dan dengan kristal-kristal yang lebih tebal, satu rangkaian bentuk hitam terpusat. Variasi warna di bawah cahaya yang dipolarisasikan adalah ciri khas asam urat.
4. Kalsium Fosfat :
Kristal kalsium fosfat juga dinamakan di-calcium fosfat atau hidroksil apatit. Nama mineralnya adalah brushite. Bentuk kristal merupakan suatu prisma yang panjang pada ujungnya mungkin terlihat sharped. Kristal ini adalah sedikit birefringent. Kristal kalsium fosfat ditemukan dengan fosfat-fosfat rangkap tiga yang lainnya dan memiliki arti klinis yang sama. Penyebab utama kristaluria ini adalah pH yang bersifat alkali bahwa berkurang daya larut kalsium fosfat dan sehingga secara perlahan terbentuk kristal tersebut. Nilai pH alkali dapat disebabkan oleh diet (vegetarian, kaya akan fosfat) tetapi dapat juga karena kondisi patologis. Biasanya, kehadiran kristal ini bukanlah yang penting. Perbedaan antara amorf urates dan amorf fosfat berdasarkan pH yang urine. Kristal dari kalsium fosfat adalah putih, sedangkan amorf urate merah muda.
5. Biurat :
Kristal Ammonium urate (atau biurate/ammonium asam urates/Ammonium biurates) secara umum kelihatan sebagai warna coklat atau kuning kecoklatan berbentuk sferis dengan penonjolan yang tidak beraturan (kecubung). Dapat pula ditemukan dalam bentuk seperti buah apel dengan lapisan berwarna gelap melingkar. Beberapa kristal diproyeksikan seperti terompet atau bentuk seperti tanduk lembu jantan dengan ujung meruncung bersifat birefringent. Ditemukan dalam urine di segala pH, tetapi akan tampak jelas pada pH netral dan alkali karena merupakan sedimen yang bersifat alkali. Ammonium biurates jarang ditemukan pada spesimen yang segar. Dapat ditenukan di dalam spesimen-spesimen yang lama yang telah mengalami pH menjadi alkali. Kristal ini dapat ditemukan pada gangguan vaskuler dengan gangguan keseimbangan pH darah.

ALAT DAN BAHAN :
Alat-alat :
• Mikroskop
• Sentrifugasi
• Objek glass
• Cover glass
Bahan :
• Urine

CARA KERJA :
1. Masukkan urin kedalam tabung sentrifus sebanyak 5-10 ml dan disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit.
2. Cairan atas dibuang sisakan ½ cc, setelah itu urin di homogenkan, pipet ke objek glass.
3. Amati di bawah mikroskop.

HASIL :
1. Asam urat

2. Cystine

3. Urat amorf

PEMBAHASAN :
Dari percobaan pemeriksaan sedimen urine yang dilihat dengan menggunakan mikroskop, didapat beberapa kristal, yaitu berupa kristal asam urat, cystine dan urat amorf. Hal ini tidak begitu menjadi suatu kasus besar dalam keadaan tubuh urine percobaan. Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.
Tapi dalam hal Batu ginjal biasanya terdiri dari tipe kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urea, struvite, dan cystine.

Dalam praktikum ini didapati cystine, cystine bisa menyebabkan sistinuria. Sistinuria (Cystinuria) adalah suatu penyakit yang jarang terjadi, yang menyebabkan dikeluarkannya asam amino sistin ke dalam air kemih dan seringkali menyebabkan pembentukan batu sistin di dalam saluran kemih. Bisanya karena ada kelainan pada tubulus renalis yang bersifat menurun (Anonim. 2008).

KESIMPULAN :
Didapat tiga macam kristal dalam urine coba. Yaitu ;
1. Asam urat
2. Cystine
3. Urat amorf

Dengan adanya praktikum ini mahasiswa dapat melihat bentuk kristal-kristal yang dihasilkan oleh ginjal didalam urine manusia. Dan sebenarnya tidak dengan melihat kristal apa saja yang ada dalam urine akan tapi melihat berapa banyak kristal yang terbentuk untuk mendeteksi apakah ada kerusakan pada ginjal. Karena normal saja didalam urine terdapat beberapa kristal, kristal ini adalah sisa metabolisme yang dibuang oleh ginjal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. “Sistinuria”. http://carisehat.blogspot.com/2008/05/sistinuria.html. [Acc Date : 09 April 2012]

Anonim. 2011. “Urinalisis Berdasarkan Analisis Mikroskopis” . http://aakbandaaceh. wordpress.com/2011/11/21/urinalisis-berdasarkan-analisis-mikroskopis/. [Acc Date : 08 April 2012]

Anonim. 2011 “Sistem Ekskresi Pada Manusia”. http://hrysainsbiologi. wordpress.com/2011/ 12/24/sistem-ekskresi-pada-manusia-2/. [Acc Date : 08 April 2012]

Maulina, Maura. 2012. “Pemeriksaan Sediment Mikroskopik”. http://aceh-laboratorium.blogspot.com/2012/01/pemeriksaan-sediment-mikroskopik. html. [Acc Date : 08 April 2012]

Musyaffa, Ripani. 2010. “Kristal Sedimen Urine”. http://ripanimusyaffalab.blogspot. com/2010/12/kristal-sedimen-urine-yang-sering.html. [Acc Date : 08 April 2012]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s